
Malang, wartapoint — Di tengah derasnya arus informasi digital yang kerap dipenuhi dinamika media sosial, sebuah kabar humanis menggerakkan kepedulian sekelompok pencinta kopi. Komunitas Basecamp Juanda Coffee (BJC) Korwil Malang Raya bergerak cepat menyambangi kawasan pelosok di Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang, Jawa Timur, untuk menyalurkan bantuan kepada warga dhuafa yang selama ini luput dari perhatian publik.
Aksi sosial yang berlangsung pada Minggu (5/7/2026) ini diinisiasi setelah salah satu anggota BJC, Ita Candra, menerima informasi mengenai keberadaan warga kurang mampu yang membutuhkan uluran tangan di kawasan tersebut. Tanpa menunda waktu, informasi tersebut diteruskan ke pengurus inti komunitas, yang segera berkoordinasi dengan relawan lokal, termasuk GPS Malang, untuk turun langsung ke lapangan.
Semangat Adik SQ dan Ketabahan Bapak Kus
Perjalanan para relawan membawa mereka ke Dusun Gunung Tumpuk, sebuah wilayah perbukitan di Kecamatan Lawang. Di sana, tim menemui dua sosok yang hidup dalam keterbatasan namun memiliki keteguhan hati yang luar biasa.
Sosok pertama adalah SQ (14), seorang remaja yang lahir dengan disabilitas fisik tanpa kedua kaki. Meski hidup di tengah keterbatasan dan kerap menerima perundungan dari teman sebaya, SQ menunjukkan semangat hidup yang tinggi. Kehadiran para relawan tidak hanya untuk mengantarkan bantuan materi, tetapi juga memberikan dukungan moril agar remaja tersebut tetap percaya diri menatap masa depan.
Tidak jauh dari kediaman SQ, relawan juga mengunjungi Bapak Kus (65). Lansia sebatang kara ini menghabiskan hari-harinya di atas tempat tidur karena menderita kelumpuhan. Untuk kebutuhan sehari-hari, ia hanya mengandalkan keponakannya yang secara ekonomi juga berada dalam kondisi serbakekurangan.
Menghapus Trauma “Survei Palsu”
Kehadiran komunitas BJC di Gunung Tumpuk sempat disambut dengan rasa cemas dan waswas oleh warga setempat. Berdasarkan penuturan warga, wilayah mereka sebelumnya pernah didatangi oleh oknum tidak bertanggung jawab yang melakukan “survei hoaks”. Oknum tersebut mengambil foto dan data warga dengan janji akan memberikan bantuan, namun janji tersebut tidak pernah terealisasi.
Menanggapi trauma warga, relawan BJC memastikan bahwa kedatangan mereka murni untuk berbagi tanpa ada muatan tersembunyi. Bantuan sembako dan santunan yang dibawa langsung diserahkan hari itu juga agar dapat segera dimanfaatkan.
“Kami ingin memastikan bantuan ini benar-benar sampai dan bisa langsung dinikmati oleh mereka yang membutuhkan, tanpa embel-embel atau janji kosong,” ujar salah satu perwakilan relawan.
Sesuai dengan jargon yang mereka usung, “Ojo Leren Dadi Wong Apik” (Jangan Berhenti Menjadi Orang Baik), komunitas BJC berkomitmen untuk terus menyisir kawasan pinggiran kota dan lereng pegunungan. Fokus mereka adalah mencari warga dhuafa yang belum tersentuh oleh bantuan formal maupun perhatian publik luas, demi menyalakan kembali lentera harapan di pelosok Malang Raya. (Red)





