
Surabaya, wartapoint – Menghadapi Tahun Ajaran 2026/2027, dunia pendidikan dasar dituntut untuk tidak hanya mengejar target akademik, melainkan juga menyentuh aspek emosional dan karakter peserta didik. Paradigma ini mendasari langkah MI Muhammadiyah 28 Surabaya (MIM Dupan) dalam membekali tenaga pendidiknya.
Bertempat di lingkungan sekolah, lembaga pendidikan tersebut menggelar pelatihan bertajuk “Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) dan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC)”, Rabu (8/7/2026). Diikuti oleh seluruh jajaran guru, agenda ini menjadi langkah strategis sekolah untuk menciptakan ruang kelas yang humanis, berpusat pada siswa, serta selaras dengan dinamika kebijakan pendidikan mutakhir.
Menumbuhkan Nalar Kritis lewat Pendekatan Humanis
Pelatihan ini menghadirkan pakar pendidikan Nur Idayati, S.Pd., M.Pd. Dalam paparannya, Nur menjelaskan bahwa deep learning atau pembelajaran mendalam mengondisikan siswa untuk berpikir kritis, kreatif, dan reflektif. Melalui model ini, siswa tidak sekadar menghafal teks, melainkan mampu mengorelasikan ilmu pengetahuan dengan realitas kehidupan sehari-hari.
Pendekatan tersebut diperkuat oleh implementasi Kurikulum Berbasis Cinta. Nur menegaskan, kurikulum ini menitikberatkan pada pentingnya menghadirkan rasa kasih sayang, penghargaan terhadap keunikan potensi setiap anak, serta penciptaan iklim belajar yang aman dan inklusif.
“Pembelajaran yang berkualitas tidak hanya berfokus pada transfer materi, tetapi mampu memberikan pengalaman yang mendalam agar peserta didik memahami konsep secara utuh. Kurikulum Berbasis Cinta mengajak guru menghadirkan pembelajaran yang penuh kepedulian, sehingga proses belajar menjadi bermakna dan karakter positif anak dapat tumbuh,” ujar Nur Idayati.
Sepanjang sesi, suasana pelatihan tampak hidup. Para guru aktif berdiskusi dan saling bertukar pengalaman mengenai tantangan serta strategi mengajar yang relevan dengan karakteristik siswa di setiap jenjang kelas.
Praktik Kolaboratif Menyusun Modul Ajar Berbasis Fase
Untuk memastikan teori dapat terejawantah di ruang kelas, pelatihan dilanjutkan dengan sesi interaktif berupa penyusunan modul ajar secara berkelompok. Para pendidik dikelompokkan berdasarkan fase perkembangan anak guna merumuskan perangkat pembelajaran yang presisi.
Dalam ruang kerja kolaboratif tersebut, setiap kelompok menggodok struktur modul, mulai dari:
- Penetapan tujuan pembelajaran yang adaptif.
- Perancangan aktivitas kelas yang memicu keterlibatan aktif siswa.
- Pemilihan metode asesmen yang objektif.
- Integrasi nilai-nilai Islami dan penguatan karakter berbasis kasih sayang.
Setiap draf modul yang telah selesai kemudian dipresentasikan di hadapan forum untuk dibedah bersama sebagai bahan refleksi dan penyempurnaan kolektif.
Optimisme Melahirkan Generasi Berkarakter
Melalui pembekalan intensif ini, manajemen MI Muhammadiyah 28 Surabaya berharap para guru memiliki kesiapan penuh dalam mengaplikasikan metode deep learning dan Kurikulum Berbasis Cinta begitu lonceng tahun ajaran baru berbunyi.
Sinergi dan penyusunan modul secara kolaboratif ini diharapkan melahirkan perangkat ajar yang inovatif sekaligus peka terhadap kebutuhan psikologis anak.
Dengan komitmen untuk terus belajar dan berinovasi, MIM Dupan optimistis mampu menghadirkan atmosfer sekolah yang tidak hanya memacu prestasi, tetapi juga melahirkan generasi Islami yang berkarakter kuat dan berempati tinggi, sesuai dengan visi besar yang diusung madrasah. (Tiris/yupan)





