Dari Tradisi ke Transformasi, SMAMDA Siapkan Qobilah HW sebagai Ruang Kaderisasi

Must read

- Advertisement -

Surabaya, wartapoint – Revitalisasi Qobilah Kepanduan Hizbul Wathan (HW) SMA Muhammadiyah 2 Surabaya (SMAMDA) tidak sekadar berbicara tentang mengaktifkan kembali kegiatan kepanduan. Lebih jauh, pertemuan bersama Kwarda HW Surabaya dan Kwarcab HW Ngagel menjadi momentum untuk menghubungkan tradisi kepanduan dengan kebutuhan kaderisasi generasi muda Muhammadiyah.

Rapat yang berlangsung di Meeting Room lantai 4 Gedung SMAMDA Tower, Kamis (13/8/2026), mempertemukan unsur sekolah, Kwarda, dan Kwarcab untuk membicarakan arah pengembangan Qobilah HW di SMAMDA.

Hadir dalam pertemuan tersebut Arif Himawan, M.Pd, Sulaiman, S.Pd, dan Moch. Soleh dari Kwarda HW Surabaya. Dari Kwarcab HW Ngagel hadir Nur Fuad, S.Sos.I dan Ahmad Mahmudi, M.Pd. Sementara dari SMAMDA hadir Kepala Sekolah Mukhlasin, jajaran guru, serta PIC HW Supriadi, S.Kom dan Darwis Okta Effendi, S.S.

Pertemuan dimulai pukul 13.00 WIB dan dibuka Wakil Kepala Sekolah bidang Kesiswaan SMAMDA, Moch. Hendy Bayu Pratama, S.S., M.Pd. Dengan prakata yang humanis, ia mengantarkan peserta pada pembahasan tentang masa depan kepanduan di lingkungan SMAMDA.

Menghidupkan Kembali Identitas Kepanduan
Kepala SMAMDA Surabaya, Mukhlasin, mengatakan revitalisasi HW perlu ditempatkan dalam kerangka yang lebih luas.
“Terima kasih banyak atas kehadiran jajaran kepengurusan HW dari Kwarda dan Kwarcab beserta PIC HW di SMAMDA Surabaya,” ujarnya.

Menurutnya, HW memiliki posisi strategis karena berada di persimpangan antara pendidikan karakter dan kaderisasi Muhammadiyah.
“Harapannya, bagaimana HW di SMAMDA Surabaya dapat merevitalisasi kepanduan, tidak hanya sebagai Ortom Muhammadiyah, tetapi juga sebagai landasan kaderisasi kepanduan di Persyarikatan Muhammadiyah,” kata Mukhlasin.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa revitalisasi bukan berarti sekadar menghidupkan kegiatan lama, melainkan memberikan makna baru agar kepanduan tetap relevan dengan karakter siswa dan tantangan pendidikan saat ini.

Sejarah Menjadi Modal Masa Depan
Dra. Anita Diah Anggriani menilai perjalanan HW di SMAMDA merupakan bagian penting yang tidak boleh dilepaskan dalam proses revitalisasi.
“Histori kepanduan HW dan perjalanan kepanduan HW di SMAMDA perlu disampaikan untuk mengejawantahkan kembali kepanduan HW di SMAMDA,” ungkapnya.

Menurut Anita, sekolah juga memiliki modal sosial berupa alumni yang masih aktif dalam dunia kepanduan.
“Beberapa pembina diambilkan dari alumni SMAMDA yang aktif di kepanduan dan kepelatihan HW di daerah,” tambahnya.

Kehadiran alumni tersebut menjadi penghubung antara pengalaman generasi sebelumnya dengan kebutuhan pengembangan kepanduan generasi sekarang.

HW Tidak Terbatas Usia
Moch. Soleh dari Kwarda HW Surabaya kemudian menjelaskan karakter Qobilah dalam sistem kepanduan HW.
“Qobilah itu seperti ranting. HW bisa didirikan di mana saja,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa karakter HW berbeda dengan IPM yang memiliki batasan usia tertentu.
“Qobilah dengan IPM berbeda. Kalau di IPM berlaku usia, berbeda dengan HW yang tidak mengenal usia,” ujarnya.

Menurutnya, fleksibilitas tersebut menjadi salah satu kekuatan HW untuk terus berkembang di berbagai lingkungan, termasuk sekolah.

Kurikulum Tidak Perlu Dimulai dari Nol
Persoalan lain yang dibahas adalah kurikulum. Sulaiman, S.Pd, menegaskan bahwa HW telah memiliki kerangka kurikulum yang dapat menjadi pijakan sekolah.
“Kurikulum kepanduan HW itu sudah tersusun dari Muktamar HW. Untuk tingkat SMA tinggal mengadopsi dari kurikulum nasional HW,” jelasnya.

Namun, penerapan kurikulum tetap harus disesuaikan dengan karakter sekolah dan peserta didik.
“Tentu ada penyesuaian dan kondisional. Itu sudah sewajarnya,” tambah Sulaiman.

Hal tersebut memperlihatkan bahwa revitalisasi Qobilah HW tidak harus membangun sistem dari awal. Sekolah dapat mengembangkan kurikulum yang sudah tersedia dengan memberikan konteks sesuai kebutuhan siswa SMAMDA.

HW sebagai Bagian dari Ekosistem Muhammadiyah
Arif Himawan melihat revitalisasi HW SMAMDA dalam konteks yang lebih besar, yakni ekosistem kaderisasi Muhammadiyah.
“Tidak ada anak tiri dalam Muhammadiyah,” tegas Arif.
Ia menyebut banyaknya Ortom Muhammadiyah sebagai kekuatan yang dapat saling melengkapi.
“Ada banyak Ortom di Muhammadiyah. HW ini menjadi salah satu Ortom yang dinamis,” katanya.

Menurut Arif, SMAMDA memiliki posisi penting dalam pengembangan pendidikan Muhammadiyah di Jawa Timur.
“Apalagi SMAMDA Surabaya ini barometer pendidikan di Jawa Timur,” ungkapnya.

Karena itu, penguatan HW di SMAMDA dinilai bukan hanya menjadi kepentingan internal sekolah, tetapi berpotensi menjadi model pengembangan kepanduan di lingkungan pendidikan Muhammadiyah.

Memperkuat Pendampingan
Ketua Kwarcab HW Ngagel, Nur Fuad, S.Sos.I, mengatakan keberadaan guru menjadi salah satu faktor penting dalam keberlanjutan Qobilah HW di sekolah.
“Kepengurusan HW di tingkat sekolah berasal dari masing-masing guru di sekolah tersebut,” jelasnya.

Ia juga menekankan pentingnya menyesuaikan kurikulum dengan fase perkembangan siswa.
“Untuk tingkat SMA ini sudah masuk pada fase dewasa, termasuk bagaimana proses rekrutmen kepanduan HW,” katanya.

Di akhir rapat, Mukhlasin kembali menegaskan kebutuhan pendampingan dari struktur HW di atasnya.
“Kami berharap ada pendampingan dari Kwarda dan Kwarcab untuk revitalisasi Qobilah Kepanduan HW SMAMDA Surabaya,” ujarnya.

Diskusi yang berlangsung gayeng tersebut menjadi titik temu antara sekolah dan organisasi kepanduan. Tradisi HW yang telah memiliki sejarah panjang di SMAMDA kini diarahkan untuk menemukan bentuk baru yang lebih relevan.

Revitalisasi Qobilah akhirnya bukan sekadar menghidupkan kembali kegiatan, tetapi bagaimana warisan kepanduan diterjemahkan menjadi pengalaman pendidikan yang mampu menjawab kebutuhan generasi muda Muhammadiyah hari ini.
(Ahmad Mahmudi)

- Advertisement -spot_img

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Latest article