Dari Ngaji Pagi Menuju Tahfidz

Must read

- Advertisement -

Surabaya, wartapoint — Perjalanan siswa mengenal Al-Qur’an di SD Muhammadiyah 16 Surabaya dibangun melalui proses yang bertahap. Kemampuan membaca menjadi fondasi awal sebelum siswa diarahkan untuk menghafal. Pola tersebut salah satunya diterapkan melalui Ngaji Morning yang berlangsung setiap pagi.

Program tersebut menjadi bagian dari kokurikuler sekolah. Siswa mengikuti pembelajaran Al-Qur’an selama satu jam, mulai pukul 07.50 hingga 08.50 WIB, setelah menyelesaikan rangkaian kegiatan pagi.

Kepala Urusan Al Islam, Kemuhammadiyahan, dan Bahasa Arab (Ismuba) SD Muhammadiyah 16 Surabaya, Taufik, S.Sos.I., menjelaskan siswa terlebih dahulu mengikuti open class, baris-berbaris, opening class, serta membaca selama 10 menit.
“Setelah kegiatan open class selesai, anak-anak berbaris dan mengikuti opening class. Mereka juga disempatkan membaca selama 10 menit. Setelah itu mereka menuju ke kelas ngajinya masing-masing,” ujar Taufik, Rabu (2/9/2026).

Siswa kemudian mengikuti pembelajaran berdasarkan kemampuan masing-masing. Menurut Taufik, pembagian tersebut penting agar proses belajar membaca Al-Qur’an dapat berlangsung secara bertahap.
“Anak-anak dikelompokkan berdasarkan jenjang kemampuan di setiap kelasnya,” katanya.

Dalam pembelajaran Ngaji Morning, sekolah menggunakan metode Tilawati. Terdapat enam jilid yang dipelajari siswa dengan pendampingan ustadz dan ustadzah.
“Ngaji Morning kita menggunakan Tilawati. Ada enam jilid yang diampu oleh ustadz-ustadzah,” jelas Taufik.

Menurutnya, metode tersebut memberikan tahapan pembelajaran yang beragam. Siswa tidak hanya dituntut membaca, tetapi juga dibiasakan menyimak dan berlatih secara individual.
“Metode Tilawati digunakan karena sangat variatif. Pertama siswa menyimak guru yang sedang membaca,” ungkapnya.
“Kedua, siswa membaca secara bersama-sama. Ketiga, siswa menyambung baca dan terakhir privat ke masing-masing siswa,” lanjut Taufik.

Pola tersebut, kata dia, membuat pembelajaran memiliki dua pendekatan sekaligus.
“Metode Tilawati ini bisa dikatakan sangat lengkap karena ada klasikal dan privat,” tegasnya.

Pembelajaran membaca kemudian menjadi pintu masuk menuju program tahfidz. Sekolah menyediakan tahfidz melalui kegiatan ekstrakurikuler maupun program khusus.
“Selain Ngaji Morning sebagai kokurikuler, ada juga kegiatan tahfidz sebagai ekstrakurikuler dan tahfidz sebagai program khusus,” ujar Taufik.

Tahfidz sebagai ekstrakurikuler dilaksanakan setiap Sabtu. Sementara program khusus Tahfidz Ceria dilaksanakan pada hari efektif sekolah dan dimulai pukul 15.30 WIB.
“Program Tahfidz Ceria dilaksanakan pada hari efektif dan pukul 15.30 WIB,” jelasnya.

Kepala SD Muhammadiyah 16 Surabaya Ely Rhodlifah, SH., M.Pd., mengatakan rangkaian program tersebut menjadi bagian dari komitmen sekolah dalam mencetak generasi Qur’ani.
“Sebagai bentuk komitmen sekolah untuk mencetak generasi Qur’ani, sekolah menjalankan program pengembangan khusus,” kata Ely.

Menurut Ely, sekolah berusaha memberikan ruang bagi siswa untuk mengembangkan kemampuan Al-Qur’an sesuai potensi masing-masing.
“Selain Ngaji Morning sebagai kokurikuler, ada program tahfidz sebagai ekstrakurikuler dan tahfidz sebagai program khusus,” ujarnya.
“Pelayanan program tersebut sebagai upaya sekolah untuk melayani potensi siswa dan keinginan wali murid,” tambah Ely.

Hasil dari proses tersebut mulai terlihat dari capaian siswa yang mengikuti wisuda tahfidz maupun khatam Al-Qur’an.
“Sekolah sudah pernah mengantarkan siswa-siswinya dalam wisuda tahfidz dan khatam Al-Qur’an di setiap tahunnya,” ungkap Ely.

Salah satu siswa yang telah merasakan proses tersebut adalah Naura Zhafira Azzahra, siswa kelas V. Ia mengaku senang mengikuti kegiatan mengaji dan telah memiliki pengalaman mengikuti wisuda tahfidz.
“Aku suka ngaji. Alhamdulillah, aku sudah pernah ikut wisuda tahfidz Juz 29 waktu kelas empat kemarin,” ujar Naura.

Bagi sekolah, perjalanan dari Ngaji Morning menuju tahfidz menunjukkan bahwa kemampuan membaca dan menghafal Al-Qur’an dibangun melalui proses yang berkesinambungan. Sementara bagi siswa seperti Naura, rutinitas tersebut menjadi pengalaman yang membawa mereka dari sekadar belajar membaca menuju pencapaian hafalan Al-Qur’an.
(Ahmad Mahmudi)

- Advertisement -spot_img

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Latest article