Menepis Mitos, Mengokohkan Tauhid: Membebaskan Nalar dari Belenggu Kesialan

Must read

- Advertisement -

​Oleh: [Dr. Risman Muchtar, M.Si.]

​Di tengah laju modernisasi dan pesatnya perkembangan teknologi informasi, sebuah pemandangan kontradiktif masih kerap kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Sebagian masyarakat kita—baik di pedesaan maupun di pusat-pusat kota modern—masih sering menyandarkan nasib dan keputusan penting mereka pada simbol, angka, hari, atau pertanda alam. Keputusan untuk menikah, memulai bisnis, memilih nomor rumah, hingga membatalkan perjalanan dakwah kerap kali tersandera oleh ketakutan abstrak yang disebut “kesialan”.

​Fenomena sosial-keagamaan inilah yang dibedah secara lugas, komprehensif, dan mencerahkan oleh Dr. Risman Muchtar, M.Si. dalam artikel ilmiah populernya yang berjudul “Pandangan Islam tentang Kesialan (Perspektif Akidah, Al-Qur’an, dan As-Sunnah)”.

​Ulasan Dr. Risman hadir bukan sekadar sebagai teguran teologis, melainkan sebagai tawaran jalan keluar bagi nalar publik yang masih kerap dibelenggu oleh takhayul dan mitos.

​Redefinisikan Kesialan: Dari Mitos menuju Tauhid Purba

​Salah satu poin krusial yang digarisbawahi oleh Dr. Risman Muchtar adalah penegasan istilah thiyarah atau tathayyur dalam khazanah Islam. Islam secara tegas menolak anggapan bahwa benda mati, angka (seperti angka 13), hari-hari tertentu, atau hadirnya seseorang memiliki kekuatan gaib otonom yang bisa mendatangkan kemalangan.

​Rasulullah saw. secara eksplisit bersabda, “La thiyarah” (Tidak ada thiyarah). Hadis shahih ini, sebagaimana dijelaskan Dr. Risman, merupakan asas kemerdekaan jiwa manusia. Ketika seseorang membatalkan agenda kebaikan atau takut melangkah hanya karena melihat pertanda acak, ia sesungguhnya sedang membiarkan otonominya dilumpuhkan oleh kebiasaan irasional.

​Secara akidah, menyandarkan nasib pada sebab-sebab gaib yang tidak berdasar syariat maupun hukum alam (kausalitas empiris) merupakan tindakan yang menggerus kemurnian tauhid. Sebagaimana dirujuk dari QS. At-Taghabun ayat 11, setiap musibah dan ketetapan berada di dalam izin dan kekuasaan Allah Swt. Memindahkan penentu nasib kepada angka atau simbol bukan hanya bentuk pendangkalan iman, melainkan potensi kemusyrikan yang harus diwaspadai.

​Dampak Sosial: Stop Menjadikan Manusia Kambing Hitam

​Hal yang sangat menarik dari analisis Dr. Risman Muchtar adalah keberhasilannya ditarik dari ranah teologis abstrak menuju realitas sosial yang konkrit. Kepercayaan terhadap kesialan bukan hanya persoalan individu dengan Tuhannya, melainkan memiliki dampak sosial yang مدمر (merusak).

​Dr. Risman menyitir QS. Al-A‘raf ayat 131 tentang kelakuan kaum Firaun yang menyalahkan Nabi Musa a.s. dan pengikutnya setiap kali bencana melanda. Pola pikir ini rupanya masih bertunas hingga hari ini: ketika usaha gagal atau musibah datang, manusia cenderung mencari “kambing hitam”—baik berupa rumah yang dianggap “panas”, tempat kerja yang “pembawa sial”, hingga menuduh kehadiran seseorang sebagai sumber bencana.

​Sikap menyalahkan faktor luar ini melahirkan prasangka buruk (su’udzon), diskriminasi, dan pengucilan sosial. Padahal, Islam mengajarkanobjektivitas. Jika usaha rugi, evaluasilah manajemen dan pasarnya; jika bangunan rusak, periksalah konstruksinya; jika tubuh sakit, periksalah medisnya. Mengganti evaluasi ilmiah dengan kambing hitam “kesialan” adalah bentuk pengabaian terhadap tanggung jawab moral dan intelektual.

​Optimisme (Fa’l) sebagai Karakter Muslim Modern

​Sebagai tandingan dari thiyarah yang pesimistis dan melumpuhkan, Dr. Risman mengingatkan kita pada konsep fa’l—yakni perkataan atau harapan baik yang diajarkan oleh Nabi Muhammad saw.

​Islam tidak menghendaki umatnya hidup dalam kecemasan berlebih terhadap masa depan. Sebaliknya, Islam mendorong lahirnya masyarakat yang:

  1. ​Rasional dan Berilmu: Memahami hukum sebab-akibat yang nyata (ikhtiar).
  2. ​Berjiwa Optimis: Memiliki prasangka baik (husnudzon) kepada Allah Swt. dan masa depan.
  3. ​Bertawakal: Menyerahkan hasil akhir hanya kepada Allah setelah ikhtiar maksimal dilakukan (QS. At-Taubah: 51).

​Sikap ini membedakan secara tegas antara kesadaran spiritual yang matang dengan kepasrahan buta akibat mitos.

​Penutup: Gagasan Dakwah yang Edukatif dan Membebaskan

​Melalui artikelnya, Dr. Risman Muchtar, M.Si. tidak hanya menyajikan kritik, tetapi juga menunjukkan arah dakwah Islam yang ideal. Membebaskan masyarakat dari takhayul tidak bisa dilakukan dengan cara menghakimi, melainkan melalui edukasi tauhid yang mencerahkan dan edukasi nalar yang kritis.

​Tulisan Dr. Risman menjadi pengingat penting bagi kita semua: masyarakat yang maju dan bermartabat tidak dibangun di atas ketakutan terhadap hari buruk atau angka sial. Masyarakat yang maju dibangun di atas fondasi tauhid yang kokoh, ilmu pengetahuan yang rasional, kerja keras yang objektif, serta optimisme yang menggerakkan. Sudah saatnya kita memerdekakan pikiran kita dari belenggu mitos dan melangkah mantap dengan iman serta ikhtiar yang nyata.

- Advertisement -spot_img

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Latest article