
Surabaya, wartapoint – Ketika sebagian besar anak usianya memilih menghabiskan waktu sore dengan bermain, hal berbeda dilakukan oleh Zahri Ali Muzaffar (11). Siswa kelas 5 SD Muhammadiyah 7 Surabaya yang akrab dipanggil Affar ini justru sibuk menekuni dunia wirausaha digital sepulang sekolah.
Setiap hari usai menuntaskan kewajiban belajarnya di sekolah, Affar langsung membuka aplikasi e-commerce Shopee untuk memproses dan membungkus pesanan produk-produk mainan anak yang laris manis.
Barang-barang yang dijualnya pun sangat adaptif dengan tren terkini di kalangan anak-anak, seperti squishy berbentuk unik, kartu Pokemon, mini Lego, hingga inhaler FreshCare Blox yang sempat langka di pasaran.
Inspirasi bisnis ini muncul pertama kali pada awal Oktober 2026. Kala itu, Affar mengamati sang adik, Zanita, yang kerap meminta dibelikan squishy. Di saat bersamaan, ia melihat tingginya permintaan pasar di media sosial terhadap produk inhaler viral yang sulit ditemukan.
”Dari situ Affar melihat peluang bisnis,” ujar sang ayah menceritakan awal mula keberanian anaknya memulai usaha.
Dukungan Keluarga dan Semangat Pantang Menyerah
Darah wirausaha memang sudah mengalir dalam diri Affar, mengingat kedua orang tuanya mengelola bisnis food and beverage dari rumah. Melihat potensi dan semangat Affar, kedua orang tuanya pun memberikan dukungan penuh.
Namun, perjalanan usaha tersebut tidak langsung berjalan mulus. Saat pertama kali mengunggah produk di toko online miliknya, tidak ada transaksi yang masuk selama beberapa hari.
”Sekitar empat hari baru masuk satu orderan,” kenang Affar.
Tidak patah semangat, Affar bersama orang tuanya rajin berburu stok barang berharga promo di berbagai toko agar bisa dijual kembali dengan harga bersaing.
Usaha pantang menyerah itu membuah hasil manis. Kini, toko online milik Affar mampu melayani penjualan 10 hingga 15 produk per hari, dengan keuntungan bersih berkisar antara Rp50.000 hingga Rp75.000 setiap harinya.
Guna menjaga kelancaran usaha tanpa mengganggu aktivitas belajar, pembagian tugas dilakukan secara rapi. Saat Affar berada di sekolah, urusan pengemasan barang dibantu oleh sang ayah dan mama. Sepulang sekolah, giliran Affar yang mengambil alih operasional tokonya.
”Alhamdulillah berkat bantuan Ayah dan Mama, Affar bisa lebih mandiri, belajar menabung, dan memahami bagaimana cara berdagang yang jujur,” tutur Affar.
Tetap Utamakan Pendidikan dan Ibadah
Meski sudah mampu menghasilkan pendapatan sendiri di usia belia, Affar menegaskan bahwa pendidikan dan kewajiban keagamaan tetap menjadi prioritas utamanya.
”Bismillahirrahmanirrahim, mohon doanya semoga Affar bisa tetap konsisten tetapi tidak mengganggu ibadah, belajar, dan berprestasi di sekolah,” ungkapnya penuh harap.
Kisah Affar menjadi bukti nyata bahwa usia muda bukanlah halangan untuk belajar mandiri, mengasah jiwa kepemimpinan, dan mengembangkannya dalam dunia wirausaha sejak dini.
Laporan Jurnalis Cilik: Zahri Ali Muzaffar (SD Muhammadiyah 7 Surabaya)





