Dari Kalijudan hingga Merauke: Ustadz Muchamad Arifin Bedah Sistem Takwa dan Realita Dakwah Pedalaman

Must read

Surabaya, wartapoint – Suasana khidmat menyelimuti Masjid Nurul Islam Kalijudan pada Ahad pagi (25/03/2026). Selepas salat Subuh berjamaah, ratusan jamaah tampak bergeming di tempat duduk mereka, menyimak untaian ilmu dalam Kuliah Subuh yang menghadirkan Ketua Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Ustadz Muchamad Arifin.

​Dalam kajian tersebut, Ustadz Arifin membawa pesan mendalam mengenai esensi Ramadan yang seringkali terjebak dalam rutinitas fisik semata. Ia menegaskan bahwa, Ramadan bukanlah sekadar momentum menahan lapar, melainkan sebuah wadah besar dengan sistem ibadah yang terintegrasi.

​Ramadan sebagai Sistem Menuju Takwa

​Menurut Ustadz Arifin, ketakwaan tidak lahir dari amal yang berdiri sendiri, melainkan dari rangkaian sistem yang saling berkaitan. Ia merinci bahwa di dalam “wadah” Ramadan, terdapat empat pilar utama yang harus dijalankan secara utuh:

  1. Siyamu Ramadan: Puasa sebagai fondasi pengendalian diri.
  2. Qiyamu Ramadan: Menghidupkan malam dengan ibadah dan salat.
  3. Filantropi Islam: Penguatan infak dan sedekah.
  4. Akhlakul Karimah: Menjaga perilaku dan lisan sebagai buah dari ibadah.

“Setiap bagian dari sistem itu saling berkaitan. Puasa bukan hanya soal perut, tapi proses membangun akhlak dan kepedulian sosial yang berkesinambungan,” jelasnya.

​Refleksi dari Ujung Timur Indonesia: “Dakwah Tak Seindah di Kota”

​Suasana kajian yang semula hangat mendadak berubah hening dan penuh haru saat Ustadz Arifin mulai membagikan catatan perjalanannya dari wilayah timur Indonesia. Ia baru saja kembali dari tugas dakwah di Merauke, titik paling timur Nusantara.

​Dengan nada suara yang merendah, beliau melukiskan kontrasnya fasilitas dakwah di kota metropolitan dengan realita di pedalaman. Di saat masyarakat kota menikmati kemudahan akses transportasi dan masjid yang nyaman, para dai di Merauke harus bertaruh tenaga menembus keterbatasan.

​”Dakwah di daerah terpencil tidak semudah di kota. Untuk menjangkau satu kampung ke kampung lain, medannya sulit, transportasinya langka, dan fasilitas dasar sangat terbatas,” ungkapnya.

​Kisah tersebut menjadi tamparan halus sekaligus refleksi bagi jamaah. Ia mengingatkan bahwa, kemudahan beribadah di kota adalah nikmat besar yang menuntut tanggung jawab lebih untuk membantu saudara-saudara seiman di pelosok negeri.

​Menyalakan Cahaya Islam hingga Pelosok

​Menutup kajian, Ustadz Arifin mengajak jamaah untuk memperluas cakrawala kepedulian. Ramadan tahun ini hendaknya menjadi momentum untuk memperkuat dukungan terhadap dakwah di wilayah-wilayah yang sulit terjangkau.

​”Di tempat-tempat yang jauh dari keramaian itu, ada saudara-saudara kita yang terus berjuang menjaga cahaya Islam agar tetap menyala. Jangan biarkan mereka berjuang sendirian,” pesannya.

​Seiring cahaya matahari yang mulai menerangi halaman masjid, para jamaah membubarkan diri dengan membawa perspektif baru. Kuliah Subuh kali ini tidak hanya meninggalkan pemahaman tentang fiqih puasa, tetapi juga kesadaran kolektif bahwa dakwah harus menyentuh hingga ke ujung negeri. (yupan)

- Advertisement -spot_img

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Latest article