Surabaya, wartapoint – Kebijakan Work From Home (WFH) yang diterapkan pada hari Jumat pasca-Lebaran 2026 dinilai bukan sekadar langkah administratif biasa. Di tengah dinamika geopolitik yang memicu kenaikan harga BBM, kebijakan ini muncul sebagai respons sosial yang menyentuh berbagai dimensi kehidupan masyarakat, mulai dari ekonomi hingga kesehatan mental.
Efisiensi Energi dan Kualitas Hidup
Anggota PRM Bringin (PCM Sambikerep), Priyo Utomo, menyoroti bahwa WFH terbukti efektif menekan penggunaan kendaraan secara signifikan. Berkurangnya mobilitas ke tempat kerja berdampak langsung pada penurunan konsumsi BBM, sekaligus mengurangi kemacetan dan polusi udara di kota-kota besar.
”Masyarakat tidak hanya lebih hemat energi, tetapi juga berpotensi lebih sehat secara fisik dan stabil secara psikologis karena terhindar dari tekanan lalu lintas,” tulisnya.
Transformasi Budaya Kerja Modern
Secara ekonomi, WFH memberikan ruang bagi pekerja untuk menekan pengeluaran transportasi yang membengkak. Meskipun ada kekhawatiran mengenai penurunan produktivitas, pengalaman pasca-pandemi justru menunjukkan bahwa dengan manajemen yang tepat, kinerja karyawan tetap terjaga.
Hal ini membuka peluang lahirnya budaya kerja baru yang lebih:
- Fleksibel: Menyesuaikan dengan kebutuhan personel.
- Efisien: Memangkas waktu tunggu dan perjalanan.
- Inklusif: Memungkinkan partisipasi kerja dari berbagai kondisi.
Keseimbangan Keluarga vs Ancaman Kesenjangan
Dari sisi domestik, WFH memberikan waktu lebih bagi individu untuk berinteraksi dengan keluarga. Waktu yang biasanya habis di jalan kini bertransformasi menjadi momen istirahat atau aktivitas produktif lainnya yang mendukung keseimbangan hidup (work-life balance).
Namun, Priyo juga memberikan catatan kritis terkait tantangan infrastruktur. “Kebijakan ini menyimpan tantangan serius, yakni ketimpangan akses digital. Tanpa perhatian pada infrastruktur internet di pedesaan, WFH berpotensi memperlebar kesenjangan antara pekerja sektor formal dan informal,” tegasnya.
Momentum Refleksi Sosial
Pada akhirnya, WFH pasca-Lebaran 2026 diharapkan tidak hanya menjadi solusi jangka pendek menghadapi fluktuasi harga BBM. Ini adalah momentum kolektif untuk membangun tatanan sosial yang lebih berkelanjutan dan adil.
Perubahan menuju pola kerja hybrid menuntut kesiapan infrastruktur dan transformasi pola pikir bahwa produktivitas tidak lagi hanya diukur dari kehadiran fisik, melainkan pada kualitas hasil dan kualitas hidup manusianya. (Anang Dony/yupan)






