Surabaya, wartapoint – Lantunan suci Surat Al-Infithar menggema khusyuk di gedung STDKI Ar-Rahmah, Jalan Teluk Buli I, Perak Utara, Surabaya, Sabtu (20/6/2026). Puluhan anak dengan jubah dan pakaian rapi tampak khidmat mengikuti prosesi Khotmil Qur’an. Hari itu menjadi momen bersejarah bagi SD Muhammadiyah 21 Surabaya yang sukses menyelenggarakan Wisuda Tahfidz Angkatan III.
Acara yang menandai kelulusan target hafalan Al-Qur’an antara satu hingga lima juz ini dihadiri oleh jajaran pimpinan sekolah, Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Semampir, jajaran guru, serta para orang tua murid. Sejak pagi, atmosfer ballroom dipenuhi rasa bangga bercampur haru yang mendalam.
Uji Publik dan Pembuktian Hafalan
Rangkaian acara diawali dengan prosesi formal keislaman dan kebangsaan, mulai dari pembacaan Kalam Ilahi hingga menyanyikan lagu Indonesia Raya, Mars Muhammadiyah, dan Mars TPA. Namun, ketegangan sekaligus decak kagum mulai terasa saat memasuki sesi Uji Publik Hafalan.
Pada sesi ini, para wisudawan dan wisudawati diuji secara langsung di hadapan publik dan tamu undangan. Dengan penuh percaya diri, satu per satu siswa menjawab pertanyaan tim penguji serta melanjutkan potongan ayat yang dibacakan. Sesi ini menjadi bukti nyata bahwa hafalan yang mereka miliki bukan sekadar hafalan sesaat, melainkan sudah melekat kuat dalam ingatan.
Dalam sambutannya, Ketua PCM Semampir yang diwakili oleh Ustadz Puryadi, memberikan motivasi besar kepada para siswa. Ia berpesan agar pencapaian ini tidak membuat para siswa berpuas diri, melainkan menjadi pemantik untuk terus menjaga dan merawat hafalan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.
Simbol Mahkota dan Tangis Haru Orang Tua
Puncak emosi dalam ruangan pecah saat prosesi inti wisuda berlangsung. Setelah satu per satu siswa naik ke atas panggung untuk menerima syahadah (piagam kelulusan), para wisudawan mempersembahkan sebuah lagu bertema Hafidz Al-Qur’an.
Sambil bernyanyi, para siswa berjalan mendekati orang tua mereka masing-masing lalu menyematkan mahkota tiruan di kepala ayah dan ibu mereka. Ini merupakan simbol teologis dan penghormatan setinggi-tingginya atas doa, peluh, dan perjuangan orang tua selama mendampingi anak-anak menghafal Kitab Suci.
Isak tangis seketika pecah di seisi ruangan saat anak-anak tersebut bersimpuh, mencium tangan, dan memohon doa restu kepada orang tua mereka. Banyak orang tua yang tak kuasa membendung air mata kebahagiaan menyaksikan buah hati mereka tumbuh menjadi generasi penjinak wahyu.
Komitmen Mencetak Generasi Berkarakter
Kepala SD Muhammadiyah 21 Surabaya, Priyo Sasongko, M.Pd., menyampaikan rasa syukur dan apresiasi yang luar biasa kepada seluruh ekosistem sekolah—mulai dari siswa, guru pembimbing, hingga orang tua murid yang telah menjadi mitra terbaik dalam proses menghafal di rumah.
Ia menegaskan bahwa program tahfidz di sekolah yang dipimpinnya terus menunjukkan grafik perkembangan yang positif dari tahun ke tahun.
”Kami sangat bersyukur dan bangga. Wisuda Tahfidz Angkatan III ini menjadi bukti bahwa pembinaan karakter dan kecintaan terhadap Al-Qur’an di SD Muhammadiyah 21 Surabaya berjalan dengan baik. Semoga anak-anak tidak hanya menjadi penghafal Al-Qur’an, tetapi juga mampu mengamalkan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari,” tutur Priyo.
Sebelum ditutup dengan doa bersama dan kesan-pesan dari perwakilan wali murid, pihak panitia memberikan penghargaan khusus kepada sejumlah wisudawan terbaik sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi tinggi mereka selama mengikuti program.
Melalui wisuda angkatan ketiga ini, SD Muhammadiyah 21 Surabaya menegaskan kembali komitmennya untuk tidak sekadar mengejar prestasi akademik umum, melainkan membangun fondasi peradaban bangsa yang berakhlak mulia melalui generasi Qur’ani yang siap menghadapi masa depan. (Devi)





