Salinan dari Donasi Pembangunan Masjid Poster
Sunday, June 21, 2026
Salinan dari Donasi Pembangunan Masjid Poster

Kisah Ustaz Halim: Mengakhiri 30 Tahun Pengabdian dengan Parodi “Keramat” dan Pesan Memuliakan Ibu

Must read

Surabaya, wartapoint — Gelak tawa dan tangis haru bercampur baur dalam acara Haflatul Wada’ (pelepasan) siswa kelas VI SD Muhammadiyah 18 Surabaya yang digelar pada Sabtu (20/6/2026). Di balik kekhidmatan prosesi perpisahan tersebut, sebuah kejutan tak terduga hadir dari Ustaz Halim, S.Pd., seorang guru senior yang akan memasuki masa purnatugas pada Juli mendatang.

​Setelah 30 tahun mendedikasikan hidupnya di dunia pendidikan, Ustaz Halim memilih cara yang unik sekaligus menyentuh hati untuk memberikan “kuliah terakhir” kepada para anak didiknya.

​Pesan Memuliakan Ibu dalam Balutan Parodi

​Aksi panggung yang tidak tercantum dalam susunan acara resmi ini seketika menyedot perhatian seluruh hadirin. Tidak tampil sendiri, Ustaz Halim naik ke atas panggung didampingi oleh Ustaz Umam dan Ustaz Zain. Ketiganya tampil total bak personel Soneta Grup, lengkap dengan gaya khasnya.

​Bukan sekadar hiburan kosong, mereka membawakan parodi lagu “Keramat”, sebuah tembang legendaris yang dipopulerkan oleh Raja Dangdut Rhoma Irama. Di tengah gaya jenaka yang mengundang tawa, terselip pesan mendalam yang ingin disampaikan Ustaz Halim kepada para wisudawan dan wisudawati: senantiasa menghormati, menyayangi, dan berbakti kepada ibu.

“Ibu adalah sosok yang jasanya tidak akan pernah tergantikan oleh apa pun di dunia ini. Melalui lagu ini, kami ingin menanamkan ingatan itu erat-erat di hati anak-anak sebelum mereka melangkah ke jenjang yang lebih tinggi,” ujar Ustaz Halim.

​Penampilan yang segar dan penuh canda tersebut sontak disambut tepuk tangan riuh dari para orang tua murid, siswa, hingga jajaran guru yang memadati ruangan.

​Tiga Dekade Melahirkan Generasi Bangsa

​Namun, atmosfer keceriaan itu perlahan bergeser menjadi syahdu ketika Ustaz Halim menyampaikan pidato singkat mengenai perjalanan panjangnya sebagai pendidik. Tiga puluh tahun atau tiga dekade bukanlah waktu yang singkat untuk setia berdiri di depan kapur dan papan tulis.

​”Alhamdulillah, banyak suka dan duka yang telah dilewati selama mengajar di sini. Kalau dihitung-hitung, murid-murid saya yang sekarang ini usianya sudah seumuran dengan cucu saya sendiri,” kelakarnya, yang langsung disambut tawa hangat sekaligus senyum haru dari para hadirin.

​Di balik gurauan tersebut, tebersit rasa syukur yang mendalam. Selama tiga puluh tahun, Ustaz Halim telah menjadi saksi hidup tumbuh kembang ribuan anak terdidik di SD Muhammadiyah 18 Surabaya, mengukir jejak pengabdian yang tidak ternilai bagi masa depan bangsa.

​Air Mata di Penghujung Pengabdian

​Puncak keharuan acara pecah saat tim guru kelas VI memberikan kejutan balasan. Sebuah tumpeng dan bingkisan dihadirkan di atas panggung sebagai simbol penghormatan, kasih sayang, dan rasa terima kasih yang tak terhingga atas dedikasi Ustaz Halim selama ini.

​Momen sederhana itu seketika mengubah ruangan menjadi lautan air mata. Beberapa siswa kelas VI tampak terisak, sementara rekan-rekan guru sejawat tak mampu menyembunyikan rasa kehilangan mereka. Ustaz Halim sendiri terlihat berkaca-kaca saat menerima pelukan dan ucapan selamat dari rekan-rekan seperjuangannya.

​Tepuk tangan panjang menggema cukup lama di dalam ruangan, menjadi penghormatan terakhir yang agung bagi sang guru.

​Bagi keluarga besar SD Muhammadiyah 18 Surabaya, parodi lagu “Keramat” hari itu bukan sekadar hiburan pelepas penat. Ia adalah warisan nilai, sebuah persembahan terakhir yang manis dari seorang guru yang sadar bahwa tugas formalnya mungkin akan segera berakhir, namun tugas moralnya sebagai pendidik tidak akan pernah usai.

Mengajar mungkin berhenti karena usia, tetapi keteladanan dan pengabdian seorang guru akan terus hidup dalam ingatan dan doa murid-muridnya. (Desy)

- Advertisement -spot_img

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Latest article