Tinggalkan Pola Hafalan, Guru MI Muhammadiyah 27 Surabaya Asah Kemampuan Merancang Soal Berbasis Nalar

Must read

- Advertisement -

Surabaya, wartapoint – Menjelang bergulirnya tahun ajaran baru, paradigma pembelajaran konvensional yang bertumpu pada hafalan mulai ditinggalkan. Sebagai gantinya, para pendidik didorong untuk melahirkan instrumen penilaian yang mampu memicu daya kritis dan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa.

​Semangat perubahan tersebut tecermin dalam pelatihan bertajuk “Penguatan Kompetensi Guru Melalui Penyusunan Soal Berbasis Literasi dan Numerasi” yang digelar di Aula MI Muhammadiyah 27 Surabaya, Rabu (8/7/2026). Kegiatan yang berlangsung sejak pagi hingga sore hari ini diikuti oleh seluruh guru kelas dan guru mata pelajaran di lingkungan sekolah tersebut.

​Bergeser ke Arah Kemampuan Analisis

​Pelatihan ini menghadirkan pakar pendidikan Dr. Widayanto, M.Pd., yang memaparkan strategi penyusunan instrumen penilaian agar sejalan dengan standar Asesmen Nasional (AN). Fokus utama materi terletak pada urgensi pergeseran paradigma evaluasi: dari yang semula bersifat hafalan (Lower Order Thinking Skills/LOTS) menuju soal-soal yang menuntut pemahaman konsep, analisis mendalam, serta aplikasi dalam konteks kehidupan nyata (Higher Order Thinking Skills/HOTS).

​Kepala MI Muhammadiyah 27 Surabaya, Sixtynna Eka Octaviany, S.Pd., menegaskan bahwa penguatan literasi dan numerasi jangan hanya dipandang sebagai persiapan menghadapi ujian semata. Lebih dari itu, keduanya merupakan fondasi kompetensi dasar yang sangat krusial bagi masa depan siswa.

​”Tujuan kami bukan membuat siswa sekadar pandai mengerjakan soal AN, melainkan membekali mereka dengan kemampuan membaca, memahami informasi, serta menalar data yang berguna sepanjang hayat. Guru memegang kunci utama dalam menerjemahkan kompetensi ini ke dalam soal-soal harian yang bermakna,” ujarnya.

​Integrasi Stimulus Realistis dan Kurikulum Berbasis Cinta

​Tidak hanya menerima teori, para peserta juga dilibatkan dalam sesi praktik langsung untuk menyusun bank soal berbasis literasi dan numerasi. Menariknya, instrumen penilaian ini diintegrasikan dengan “Kurikulum Berbasis Cinta” yang menjadi ciri khas lembaga tersebut.

​Dalam sesi tersebut, narasumber memberikan contoh konkret mengenai cara mengemas konten-konten pelajaran seperti Matematika, Bahasa Indonesia, Sains, hingga Pendidikan Karakter ke dalam bentuk stimulus yang relevan dengan lingkungan sekitar anak. Melalui pendekatan ini, soal tidak lagi terasa asing atau abstrak bagi siswa.

​Diskusi interaktif pun berjalan dinamis saat para guru saling membedah tantangan serta merumuskan solusi bersama terkait penerapan metode baru ini di ruang kelas.

​”Selama ini saya menyadari masih terjebak pada pola soal konvensional. Pelatihan ini membuka wawasan saya tentang bagaimana merancang soal yang memicu nalar siswa tanpa harus kehilangan esensi materi. Ini bekal penting untuk perbaikan pembelajaran di semester depan,” aku salah seorang guru peserta pelatihan.

​Komitmen Pendidikan yang Mencerahkan

​Langkah MI Muhammadiyah 27 Surabaya ini menjadi bagian dari komitmen jangka panjang sekolah dalam mengembangkan profesionalisme pendidik secara berkelanjutan. Melalui evaluasi yang tepat dan berbasis nalar, pihak sekolah ingin memastikan proses penilaian benar-benar mencerminkan capaian kompetensi siswa secara utuh.

​Langkah strategis ini juga selaras dengan visi besar Muhammadiyah dalam mewujudkan pendidikan yang mencerahkan serta memberdayakan umat.

​Kegiatan pelatihan ditutup dengan kesepakatan dan komitmen bersama dari seluruh tenaga pendidik. Mereka siap mengimplementasikan hasil pelatihan ini ke dalam perencanaan pembelajaran serta instrumen asesmen, baik formatif maupun sumatif, demi menyambut tahun ajaran baru yang lebih berkualitas. (Duki/yupan)

- Advertisement -spot_img

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Latest article