
Surabaya, wartapoint – Menyambut Tahun Ajaran 2026–2027, Majelis Pendidikan Dasar, Menengah, dan Pendidikan Nonformal (Dikdasmen dan PNF) Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Kenjeran menggelar pembinaan bagi seluruh guru dan karyawan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) se-Cabang Kenjeran.
Kegiatan yang berpusat di Aula MI Muhammadiyah 25 ini berlangsung pada Kamis (9/7/2026). Agenda tahunan ini diinisiasi sebagai bagian dari ikhtiar untuk memperkuat komitmen, meningkatkan profesionalisme, serta menyelaraskan visi dalam menghadirkan layanan pendidikan yang unggul dan berkemajuan.
Menumbuhkan Motivasi dan Karakter Siswa
Acara pembinaan ini diikuti oleh seluruh elemen pendidik dan tenaga kependidikan dari MI Muhammadiyah 25 dan SMP Muhammadiyah 15. Usai sesi pembukaan bersama, para peserta kemudian dibagi berdasarkan lembaga masing-masing untuk mendapatkan pembinaan yang lebih spesifik.
Untuk sesi guru dan karyawan MI Muhammadiyah 25, materi pembinaan diisi langsung oleh Wakil Ketua PCM Kenjeran, Shohib. Mengusung tema “Membangun Budaya Positif di Sekolah”, Shohib menjelaskan bahwa iklim sekolah yang positif sangat krusial untuk menumbuhkan motivasi belajar sekaligus membentuk karakter peserta didik.
Menurut Shohib, budaya positif akan menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan menyenangkan. Kondisi inilah yang pada akhirnya mampu mendorong lahirnya generasi yang tidak hanya berprestasi secara akademik, tetapi juga berakhlak mulia.
Tiga Langkah Utama Mewujudkan Budaya Positif
Dalam pemaparannya, Shohib menegaskan bahwa ada tiga langkah utama yang harus ditempuh sekolah untuk mewujudkan budaya positif tersebut:
- Kontrol Diri Pendidik: Guru harus memiliki kontrol diri yang baik agar hubungan antara guru dan murid dapat terjalin secara harmonis serta saling menghargai.
- Kesepakatan Kelas: Guru bersama peserta didik perlu menyusun kesepakatan bersama yang berisi aturan-aturan terarah sebagai pedoman selama proses pembelajaran.
- Disiplin Positif: Menerapkan disiplin yang berorientasi pada pembentukan perilaku baik serta membantu siswa tetap fokus pada tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.
Keluar dari Zona Nyaman
Lebih lanjut, Shohib mengingatkan para pendidik agar tidak terjebak menjadi guru yang pasif, tidak peduli, gemar mengeluh, atau terlalu terlena di zona nyaman. Karakter-karakter negatif tersebut dinilai akan menjadi kerikil yang menghambat perkembangan sekolah.
“Jangan menjadi guru yang hanya datang, mengajar, lalu pulang. Sekolah hebat bukan semata-mata karena kurikulumnya, tetapi karena orang-orang di dalamnya memiliki kepedulian, semangat berinovasi, dan komitmen untuk terus maju,” tegas Shohib.
Sebagai penutup sesi, ia mengajak seluruh guru untuk merefleksikan peran mereka dan berani menjadi agen perubahan yang memberikan dampak positif bagi instansinya masing-masing.
”Mari menjadi guru yang membangun, bukan yang menghambat. Ketika seluruh guru memiliki kepedulian dan semangat yang sama, sekolah akan memiliki daya tarik tersendiri dan menjadi magnet bagi masyarakat,” pungkasnya. (Fu’adah/yupan)





