
Surabaya, wartapoint – Memasuki tahun ajaran baru 2026–2027, tantangan dunia pendidikan modern menuntut kesiapan yang matang dari seluruh perangkat sekolah. Menjawab tantangan tersebut, MI Muhammadiyah 25 menggelar agenda Pembinaan Guru dan Karyawan sebagai momentum penguatan kompetensi sekaligus peneguhan komitmen kolektif institusi.
Dalam kegiatan tersebut, Sekretaris Majelis Pendidikan Dasar Menengah dan Pendidikan Nonformal (Dikdasmen dan PNF) Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Kenjeran, Jatim MA, memaparkan dinamika yang memengaruhi pasang surutnya kualitas sebuah lembaga pendidikan. Menurutnya, keberlanjutan dan kemajuan sekolah sangat ditentukan oleh sinergi dua faktor utama, yaitu faktor internal dan eksternal.
”Faktor internal adalah kesolidan seluruh warga sekolah. Tanpa kerja sama, kebersamaan, dan komitmen yang kuat dari guru maupun karyawan, akan sulit bagi sekolah untuk berkembang,” ujar Jatim MA saat memberikan pengarahan.
Modal Sosial dan Kepercayaan Masyarakat
Selain internalisasi nilai-nilai soliditas, faktor eksternal berupa reputasi lembaga di mata publik memegang peranan yang tidak kalah krusial. Sekolah dituntut untuk mampu mentransformasikan kualitas layanan pendidikannya menjadi sebuah keyakinan yang kuat di tengah masyarakat.
”Kepercayaan masyarakat merupakan modal besar bagi sekolah. Ketika masyarakat yakin bahwa sekolah mampu mendidik anak-anak mereka dengan baik, maka sekolah akan terus berkembang dan memperoleh dukungan,” jelasnya.
Transformasi Peran Guru: Tujuh Karakter Masa Depan
Lebih jauh, tantangan kontemporer di sektor pendidikan saat ini menuntut pergeseran paradigma peran seorang pendidik. Guru tidak lagi sekadar menjadi artikulator materi pelajaran, melainkan juga mentor pembentuk karakter dan penyedia keterampilan masa depan (future skills) bagi peserta didik.
Guna menghadapi realitas tersebut, Jatim MA merumuskan tujuh karakter esensial yang wajib dimiliki oleh guru di era modern saat ini:
- Wawasan Global: Mampu memperkenalkan kondisi dunia mutakhir serta tren global masa depan kepada peserta didik.
- Adaptif: Responsif terhadap akselerasi perkembangan zaman, teknologi, serta transformasi sistem pendidikan.
- Inspiratif: Hadir sebagai sosok yang mampu memotivasi siswa untuk terus belajar dan berkembang secara mandiri.
- Berorientasi pada Kecakapan Hidup (Life Skills): Tidak hanya terpaku pada penyampaian teori, tetapi menekankan penguasaan keterampilan praktis sebagai bekal masa depan siswa.
- Empati Tinggi: Memiliki kepedulian yang mendalam terhadap perkembangan emosional dan psikologis peserta didik.
- Inklusif dan Personalis: Memahami eksistensi setiap anak yang memiliki keunikan karakter, potensi, dan modalitas belajar yang berbeda-beda.
- Sabar dan Persisten: Senantiasa sabar dalam mendukung, mendampingi, serta membimbing setiap siswa agar dapat mengaktualisasikan potensi terbaiknya.
”Yang tidak kalah penting, guru harus senantiasa sabar dalam mendukung, mendampingi, dan membimbing setiap siswa agar mereka dapat berkembang sesuai dengan potensi yang dimiliki,” tambahnya.
Melalui pembinaan intensif ini, seluruh jajaran pendidik dan tenaga kependidikan di MI Muhammadiyah 25 diharapkan mampu mengintegrasikan penguatan internal dan peningkatan layanan publik. Langkah strategis ini menjadi fondasi penting untuk menghadirkan model pembelajaran yang relevan, adaptif, dan kontekstif dengan kebutuhan zaman. (Fu’adah/yupan)





