Surabaya, wartapoint – Guna memperkuat kemitraan strategis dalam mendampingi tumbuh kembang anak, SD Muhammadiyah 16 Surabaya—atau yang dikenal sebagai Sekolah Kreatif Baratajaya—menggelar sosialisasi Kurikulum Leader in Me bagi wali murid kelas I.
Agenda yang berlangsung di lantai 3 gedung sekolah pada Sabtu (11/7/2026) pagi tersebut dihadiri oleh sekitar 180 orang tua siswa. Pertemuan ini dirancang untuk menyelaraskan pola pendidikan di sekolah dengan pengasuhan di rumah saat anak memasuki jenjang pendidikan dasar.
Sebagai pembuka, Koordinator Ekstrakurikuler, Ira Nurmasari, ST., S.Pd., terlebih dahulu memaparkan skema teknis serta ragam kegiatan non-akademis yang akan diikuti oleh siswa kelas I sepanjang tahun pelajaran baru untuk mengasah minat dan bakat mereka.
Inovasi Pendidikan dan Fondasi Karakter
Suasana sosialisasi mencair ketika Penggagas Sekolah Kreatif sekaligus Ketua Tim Inovasi Pengembangan Sekolah (TIPS), Heru Tjahyono, memberikan penguatan materi. Pria yang akrab disapa Babe Heru ini mengajak para peserta berinteraksi aktif lewat lagu anak-anak untuk merefleksikan dunia psikologi peserta didik.
Dalam dialognya, Heru mengapresiasi loyalitas para orang tua yang kembali memercayakan anak-anak mereka di Sekolah Kreatif Baratajaya, baik yang masih aktif maupun yang sudah menjadi alumni. Menurutnya, kepercayaan tersebut merupakan amanah besar yang harus dijawab dengan konsistensi pembaruan mutu.
”Karena kita adalah Sekolah Kreatif, maka kita sangat dinamis dan terus bertransformasi mengikuti zaman. Namun, ada satu hal yang tidak boleh dan tidak akan pernah berubah, yaitu pendidikan karakter. Nilai-nilai karakter adalah fondasi utama yang tidak bisa ditawar,” ujar Heru tegas.
Heru menambahkan, salah satu instrumen pembaruan yang diandalkan sekolah saat ini adalah Kurikulum Leader in Me. Kurikulum ini menitikberatkan pada konsep student voice, yakni memberikan ruang bagi anak untuk mengekspresikan pendapatnya sendiri.
Melalui pendekatan tersebut, ia mengajak para orang tua untuk merefleksikan kembali pola komunikasi yang dibangun di dalam rumah.
”Apakah kita sudah benar-benar mendengarkan suara anak? Sudahkah kita memberi kesempatan mereka menyampaikan gagasan, keinginan, bahkan perasaannya?” tanyanya kepada hadirin.
Heru mengingatkan bahwa keberhasilan pendidikan tidak dapat dibebankan secara sepihak kepada sekolah semata. Sinergi, rasa saling percaya, dan keterbukaan yang solid antara guru dan orang tua menjadi kunci penentu keberhasilan anak selama menempuh masa pendidikan enam tahun ke depan.
Komitmen Lingkungan Sekolah Aman dari Perundungan
Pertemuan ditutup dengan sesi dialog interaktif dua arah yang berlangsung hangat. Berbagai isu krusial diangkat oleh wali murid, mulai dari kesiapan teknis Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) hingga aspek keamanan psikologis anak di kelas.
Salah satu atensi utama datang dari wali murid kelas I Lebah (orang tua dari Marshal Salsabilah), yang menyoroti pentingnya mitigasi dan pencegahan tindakan perundungan (bullying) di lingkungan sekolah demi memastikan kenyamanan belajar anak dalam jangka panjang.
Menanggapi kekhawatiran tersebut, Kepala Urusan Kurikulum, Fahmi Muqoddas, menegaskan komitmen penuh pihak sekolah dalam menjaga ekosistem belajar yang sehat dan inklusif.
Fahmi memastikan bahwa melalui integrasi Kurikulum Leader in Me, penguatan nilai karakter, serta sistem pendampingan guru yang melekat, sekolah secara ketat membangun budaya positif. Langkah ini diambil guna memastikan setiap peserta didik merasa aman, dihargai, dan mendapatkan kesempatan luas untuk berkembang sesuai potensi uniknya masing-masing. (Ahmad Mahmudi/yupan)






