
Surabaya, wartapoint – Bagi sebagian besar masyarakat, nama “Aisyiyah” kerap kali hanya diidentikkan sebagai sebuah institusi pendidikan, khususnya taman kanak-kanak. Minimnya pemahaman bahwa Aisyiyah merupakan salah satu organisasi otonom perempuan Muhammadiyah terbesar di Indonesia menjadi tantangan dakwah tersendiri di tingkat akar rumput.
Menyikapi hal tersebut, dua kader Pimpinan Cabang Aisyiyah (PCA) Sukomanunggal mengambil momentum pada awal tahun ajaran baru untuk bergerak langsung ke sekolah-sekolah.
Aksi edukatif ini dilaksanakan secara serentak pada Sabtu (11/7/2026) di dua lokasi berbeda, yaitu TK Aisyiyah Bustanul Athfal (ABA) 61 dan TK Aisyiyah Bustanul Athfal (ABA) 66 Surabaya. Sasaran utamanya adalah para wali murid baru yang sedang mengantarkan anak-anak mereka.
”Hanya Tahu Nama Sekolah, Bukan Organisasi”
Di TK ABA 61, Dini Wijayanti, S.Pd., tampil di depan puluhan wali murid untuk mengurai benang kusut persepsi tersebut. Dini mengungkapkan, mayoritas wali murid baru yang hadir memang belum familier dengan eksistensi organisasi Aisyiyah.
”Hampir semua wali murid awalnya tidak mengetahui apa itu Aisyiyah. Dalam benak mereka, Aisyiyah semata-mata adalah nama sekolah, bukan sebuah organisasi pergerakan perempuan,” tutur Dini.
Dalam kesempatan tersebut, Dini memaparkan secara singkat namun lugas mengenai profil Aisyiyah di wilayah Sukomanunggal, baik dari segi struktur kepengurusan hingga berbagai program sosial-keagamaan yang rutin dijalankan. Guna membangun kedekatan, Dini juga secara terbuka mengundang para wali murid untuk hadir dalam kegiatan pengajian rutin.
”Ada pepatah tak kenal maka tak sayang. Maka, dengan hadir langsung di pengajian Aisyiyah, ibu-ibu sekalian bisa mengenal lebih dalam dan utuh tentang apa itu Aisyiyah dan Muhammadiyah,” pesan Dini.
Menjadikan Sekolah sebagai Lahan Dakwah
Fenomena serupa juga dijumpai di TK ABA 66. Yuliah Choiriah, A.Md., yang bertugas memberikan sosialisasi di sana, mendapati bahwa pemahaman wali murid masih sangat terbatas.
”Masyarakat di sini umumnya hanya tahu bahwa Aisyiyah adalah sekolah dan merupakan bagian dari Muhammadiyah, sebatas itu saja. Belum paham esensi gerakannya,” ungkap Yuliah.
Melihat realitas di lapangan, baik Dini maupun Yuliah sepakat bahwa lembaga pendidikan di bawah naungan persyarikatan harus dioptimalkan sebagai pintu gerbang informasi.
Bagi mereka, para wali murid baru bukan sekadar konsumen jasa pendidikan, melainkan bagian dari elemen masyarakat yang perlu dirangkul. Langkah mengenalkan organisasi secara humanis ini diharapkan dapat mengikis jarak, sekaligus menjadikan lingkungan sekolah sebagai lahan dakwah yang inklusif dan mencerahkan di kawasan Sukomanunggal. (Mom Yayuk/yupan)





