Kisah “Warung Be Happy”: Ikhtiar Aisyiyah Sidoyoso Menjaga Asa Ekonomi Kakak Beradik Usai Ditinggal Orang Tua

Must read

- Advertisement -

Surabaya, wartapoint – Duka kehilangan orang tua sering kali membuat kebingungan melanjutkan hidup, terutama terkait penopang ekonomi keluarga. Kondisi pelik inilah yang sempat menggelayuti perasaan Nunuk dan Alwiyah, kakak beradik yang tinggal di Jalan Granting Baru Gang 4 C, Surabaya.

​Selama bertahun-tahun, keduanya memilih tidak bekerja demi mendedikasikan waktu untuk merawat orang tua mereka yang sudah lansia. Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, mereka sepenuhnya mengandalkan uang pensiun sang orang tua. Namun, ketika sang orang tua berpulang, keran penghasilan itu otomatis terhenti, meninggalkan kecemasan mendalam tentang bagaimana mereka harus menyambung hidup ke depan.

​Merespons kesulitan yang dialami anggotanya, Majelis Kesejahteraan Sosial (Kesos) Pimpinan Ranting (PR) Aisyiyah Sidoyoso tidak tinggal diam. Terinspirasi dari kisah pilu kakak beradik ini, sebuah program inovatif bertajuk Pendampingan Ekonomi Keluarga resmi diluncurkan.

​Sebagai langkah awal konkret, tepat pada Ahad (12/7/2026), warung kelontong bernama “Be Happy” resmi didirikan dan diresmikan langsung di kediaman Nunuk dan Alwiyah.

​Pendampingan dari Hulu ke Hilir

​Ketua Majelis Kesos PR Aisyiyah Sidoyoso, Reny Wulandari, menjelaskan bahwa program ini dirancang secara terstruktur dan tidak hanya memberikan bantuan yang bersifat sementara (charity). Didukung penuh oleh Maysaroh selaku Ketua PCA Majelis Kesos beserta jajaran pimpinan ranting lainnya, mereka menerapkan alur pendampingan yang matang.

​”Kami memulai dengan menggali potensi dan kemampuan yang dimiliki anggota yang terdampak. Setelah itu, kami menawarkan opsi kegiatan, mengeksekusi program bersama, hingga nantinya melakukan pengawasan dan evaluasi berkala saat program berjalan,” ujar Reny.

​Mengingat keterbatasan keahlian dan keharusan untuk tetap beraktivitas di rumah, Nunuk dan Alwiyah memilih untuk membuka usaha warung kelontong yang menjual kebutuhan pokok serta makanan dan minuman ringan.

​Gotong Royong Mewujudkan Harapan

​Melihat tekad tersebut, pengurus Aisyiyah bergerak cepat. Mereka mulai mendata barang-barang yang potensial untuk dijual. Semangat gotong royong semakin kental dengan keterlibatan Takmir Masjid A Yani yang turut membantu membuatkan meja representatif sebagai tempat berjualan.

​Tidak berhenti di situ, pengurus Aisyiyah juga mengawal proses penyediaan barang dagangan, menata ruang, hingga memastikan warung benar-benar siap beroperasi. Sadar bahwa keberlanjutan usaha sangat bergantung pada manajemen, Nunuk dan Alwiyah juga dibekali literasi keuangan dasar. Mereka diajari cara mengelola arus kas agar modal usaha tidak habis terkonsumsi untuk keperluan harian.

​Rasa haru dan syukur tak terbendung dari Nunuk dan Alwiyah. Mereka menyampaikan terima kasih yang mendalam atas kepedulian dan pendampingan nyata yang diberikan, sehingga kini mereka memiliki sumber penghasilan mandiri untuk menopang kebutuhan hidup.

​Filosofi “Be Happy”: Bahagia Membawa Rezeki

​Dalam sela-sela peresmian, Ketua Ranting Aisyiyah Sidoyoso, Cholifah, menitipkan pesan penting kepada dua bersaudara tersebut agar disiplin dalam mengatur keuangan agar usaha ini dapat bertahan lama dan terus berkembang.

​Cholifah juga menceritakan filosofi indah di balik nama “Warung Be Happy” yang disematkan.

​”Kami beri nama Warung Be Happy, artinya Warung Bahagia. Harapannya, yang menjual bahagia, yang membeli bahagia, dan kami yang membantu juga ikut bahagia. Jika hati kita bahagia, maka jiwa akan merasa tenang. Dan ketika kita tenang, insyaallah rezeki akan mengalir dengan lancar,” pungkasnya.

​Program ini menjadi bukti nyata bagaimana organisasi sosial keagamaan mampu hadir menjadi jaring pengaman sosial ekonomi yang adaptif dan humanis bagi masyarakat di tingkat akar rumput. (Mom Yayuk/yupan)

- Advertisement -spot_img

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Latest article