Dari Rasa Gugup Menuju Silver Medal, Kisah Leanna Taklukkan Ajang Inovasi Internasional

Must read

- Advertisement -

Surabaya, wartapoint – Di balik kekompakan empat siswi SD Muhammadiyah 16 Surabaya atau Sekolah Kreatif Baratajaya yang berhasil meraih Silver Medal pada Japan Design Idea and Invention Expo (JDIE) 2026 di Kasai Airport Conference Hall, Osaka, Jepang (3–4/7/2026), tersimpan kisah perjuangan dan rasa gugup yang berhasil mereka taklukkan.

Empat siswi tersebut adalah Leanna Sharisa Chafid, Noura Malia, Queenalesha Orlin Ramadhani, dan Nasyitha Aqila Humaira. Mereka membawa inovasi ASEK 2.0 (Shortness of Breath Detector), sebuah alat pendeteksi sesak napas yang mengantarkan mereka meraih penghargaan di ajang inovasi tingkat internasional.

Salah satu anggota tim, Leanna Sharisa Chafid, mengaku sempat merasa gugup menjelang presentasi di hadapan dewan juri internasional. Meski demikian, ia bersama tim mampu tampil percaya diri dan menyampaikan hasil inovasinya dengan baik.
Di balik ketenangannya, Leanna dikenal sebagai sosok yang mandiri serta menjadi kakak yang penyayang bagi adiknya di rumah. Dukungan keluarga juga menjadi salah satu faktor yang menguatkan langkahnya hingga mampu berprestasi di tingkat dunia.

Ayah Leanna, dr. Arda Pratama Putra Chafid, Sp.A, seorang dokter spesialis anak lulusan Universitas Airlangga, memberikan kebebasan kepada putrinya untuk mengembangkan minat dan bakat sesuai pilihannya.

Sementara itu, sang ibu, Diah Ayu Chandra Kirana atau yang akrab disapa Bunda Kira, turut mendampingi perjalanan tim sejak keberangkatan hingga kembali ke Indonesia.

“Alhamdulillah saya bisa mendampingi anak-anak mulai dari berangkat sampai pulang ke tanah air,” ujar Bunda Kira.

Selama mendampingi putrinya di Osaka, Bunda Kira mengaku tak hanya menyaksikan perjuangan anak-anak saat kompetisi, tetapi juga dibuat kagum dengan penampilan mereka ketika mempresentasikan inovasi di hadapan para juri.

“Melihat mereka menjelaskan produk ASEK 2.0, saya sangat kagum. Mereka mampu menjelaskan dengan sangat fasih menggunakan bahasa Inggris. Sebagai orang tua tentu saya merasa bangga melihat keberanian dan kemampuan mereka,” tuturnya.

Menurutnya, pengalaman mengikuti kompetisi internasional juga menjadi sarana pembelajaran karakter bagi anak-anak melalui budaya yang mereka temui di Jepang.

“Kota Osaka sangat bersih dan tertata dengan baik. Anak-anak bisa belajar langsung tentang budaya antre, bertanggung jawab terhadap sampahnya sendiri, menjaga ketenangan di ruang publik, hingga menghargai kenyamanan orang lain. Pengalaman seperti ini sangat berharga bagi mereka,” katanya.

Mentor sekaligus guru pendamping tim, Sofwan Hidayat, S.Hum., M.Pd., menyampaikan bahwa keempat siswi mampu menunjukkan mental yang kuat meski menjadi peserta termuda dalam kompetisi tersebut.
“Alhamdulillah mereka sudah terbiasa melakukan presentasi dalam bahasa Inggris. Meskipun menjadi peserta termuda, mereka tidak minder ataupun ciut saat mempresentasikan inovasinya di hadapan dewan juri,” ungkap Sofwan.

Ia menilai keberhasilan tersebut tidak hanya ditentukan oleh kualitas inovasi, tetapi juga kemampuan komunikasi yang terus dilatih di sekolah.
“Anak-anak mampu menjawab pertanyaan juri dengan percaya diri. Mereka menunjukkan bahwa usia bukanlah penghalang untuk berkompetisi di tingkat internasional,” ujarnya.

Selain mengikuti kompetisi, Sofwan melihat pengalaman berada di Jepang memberikan pembelajaran yang berharga bagi para siswa.

“Saya juga melihat anak-anak sangat antusias dengan budaya Jepang. Mereka cepat beradaptasi dan belajar banyak hal, seperti menjaga kebersihan, menciptakan suasana yang tenang dan nyaman di ruang publik, serta disiplin dalam kehidupan sehari-hari. Pengalaman ini menjadi bekal karakter yang tidak kalah penting dibandingkan prestasi yang mereka raih,” pungkasnya.
(Ahmad Mahmudi)

- Advertisement -spot_img

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Latest article