Memaknai Kemerdekaan Sejati: Menata Hati lewat Syukur hingga Kejujuran

Must read

- Advertisement -

Surabaya, wartapoint – Perayaan Bulan Kemerdekaan Republik Indonesia kerap diidentikkan dengan beragam perlombaan dan kegiatan seremonial. Namun, pemaknaan kemerdekaan yang sesungguhnya dinilai harus menyentuh ranah yang lebih dalam, yakni kemampuan seseorang dalam memerdekakan jiwanya sendiri melalui penataan hati.

​Pesan tersebut menjadi inti pembahasan dalam Pengajian Akbar yang diselenggarakan oleh Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah (PCA) Mulyorejo di Masjid Nurul Islam, Surabaya, Minggu (2/8/2026). Kegiatan ini diikuti oleh jemaah dari tujuh ranting yang berada di bawah naungan PCA Mulyorejo.

​Hadir sebagai penceramah, Najib Sulhan membawakan materi bertajuk “Memaknai Kemerdekaan dengan Rasa Syukur”. Dalam tausiahnya, ia menyoroti pentingnya melengkapi kegiatan seremonial Agustusan dengan pemaknaan spiritual yang mendalam.

​”Orang yang mampu menata hatinya, sesungguhnya dialah pemilik kemerdekaan sejati,” ujarnya.

​Syukur sebagai Bentuk Kendali Diri

​Menurut Najib, rasa syukur merupakan pintu utama menuju kebaikan sekaligus kunci untuk menggapai kemerdekaan yang hakiki. Rasa syukur mengajarkan manusia untuk menerima dan menikmati apa yang telah dianugerahkan oleh Allah saat ini.

​Hal ini penting untuk mengendalikan nafsu dan keinginan manusia agar tidak melampaui batas. Najib pun menyinggung fenomena korupsi sebagai salah satu contoh nyata dari hilangnya rasa syukur dalam diri seseorang.

​”Orang yang melakukan korupsi itu bukan karena mereka kekurangan harta, melainkan karena kehilangan rasa syukur. Mereka mengumbar keinginan dengan cara-cara yang salah,” tegasnya.

​Memaafkan dan Berpikir Positif

​Selain rasa syukur, jiwa yang merdeka juga dicirikan oleh kelapangan dada untuk memaafkan. Najib menjelaskan bahwa seseorang yang mudah memaafkan akan terbebas dari beban mental akibat kesalahan orang lain.

​Guna memperkuat pesan tersebut, ia mengisahkan salah seorang sahabat Nabi dari kalangan Arab Badui yang dijamin masuk surga. Amalan utamanya bukanlah ibadah yang rumit, melainkan kebiasaan memaafkan semua orang yang pernah menyakiti hatinya setiap kali hendak tidur.

​”Dengan memaafkan, hidup terasa merdeka. Tidur bisa nyenyak, makan pun enak, karena pikiran tidak lagi terbebani oleh orang yang pernah menyakiti,” kata Najib.

​Tidak kalah penting, sikap selalu berpikir positif (husnuzan) juga menjadi benteng agar jiwa terbebas dari prasangka buruk. Mengutip sebuah hadis qudsi yang menyatakan bahwa Allah bekerja sesuai prasangka hamba-Nya, Najib mengingatkan pentingnya menjaga pola pikir.

​”Orang yang membiasakan diri berpikir positif akan mendapatkan hasil yang positif. Sebaliknya, mereka yang suka berpikir negatif juga akan memetik balasan yang negatif,” lanjutnya.

​Kejujuran Membebaskan dari Rasa Takut

​Sebagai penutup tausiahnya, Najib menekankan bahwa kejujuran adalah pilar utama kemerdekaan bersikap dan bertutur kata. Meskipun kejujuran terkadang terasa pahit, nilai ini membebaskan seseorang dari rasa takut akan terbongkarnya kebohongan.

​Seseorang yang jujur tidak akan dibayangi oleh rasa bersalah maupun rasa cemas yang berkepanjangan.

​”Kejujuran itu membuat kita merdeka dalam bersikap dan bertutur kata, tanpa harus merasa takut ketahuan atau terbebani oleh perasaan bersalah,” pungkasnya.(yupan)

- Advertisement -spot_img

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Latest article