Persiapan Menuju Husnul Khotimah: Konsistensi Amalan Kecil Lebih Utama ketimbang Seremonial

Must read

- Advertisement -

Surabaya, wartapoint – Menyiapkan bekal untuk akhir kehidupan tidak selalu harus diawali dengan lompatan besar. Kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten—mulai dari bersyukur, bersedekah, hingga terus menuntut ilmu—juxtaposed menjadi fondasi utama dalam menjemput akhir kehidupan yang baik (husnul khotimah).

​Pesan tersebut disampaikan oleh Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Ustaz Dr. H. M. Sholihin Fanani, M.PSDM., dalam Kajian Ahad Pagi Matahari Terbit yang digelar Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Gubeng di Masjid Istiqomah, Surabaya, Ahad (2/8/2026).

​Mengangkat tema “Menata Bekal, Menjemput Husnul Khotimah”, acara yang bertepatan dengan 19 Safar 1448 H ini dihadiri jemaah dari berbagai kalangan dalam suasana yang hangat dan reflektif.

​Dalam tausiahnya, Sholihin menggarisbawahi pentingnya prinsip istiqamah atau keberlanjutan dalam beramal, yang ia rangkum dalam ungkapan bahasa Jawa: “Tambah suwe tambah yakin, tambah suwe tambah rajin. Sitik-sitik diiling-iling, sitik-sitik dilakoni” (Makin lama makin yakin, makin lama makin rajin. Sedikit demi sedikit diingat, sedikit demi sedikit dijalankan).

​”Menjadi pribadi yang lebih baik tidak harus menunggu perubahan besar. Kebaikan bisa dimulai dari hal kecil yang rutin dilakukan hingga menjadi kebiasaan,” ujar Sholihin.

​Empat Bentuk Implementasi Syukur

​Sholihin menjelaskan bahwa rasa syukur tidak berhenti pada lisan, melainkan harus diwujudkan dalam empat tingkatan:

  1. Syukur bil Qauli (Lisan): Mengucapkan alhamdulillah serta membiasakan diri bertutur kata yang baik.
  2. Syukur bil Fi’li (Perbuatan): Membuktikan rasa syukur dengan meningkatkan kualitas ibadah dan ketakwaan.
  3. Syukur bil Mali (Harta): Memanfaatkan harta jalan kebaikan, salah satunya melalui infak dan sedekah jariyah.
  4. Syukur bil Qolbi (Hati): Menanamkan rasa cukup (qana’ah), mengikis sifat rakus, serta memelihara kesabaran dan keikhlasan.

​Menjauhi Sikap Jarkoni

​Dalam kesempatan tersebut, Sholihin menekankan tiga fungsi majelis ilmu, yaitu tilawah (membaca), tazkiyah (menyucikan jiwa), dan al-hikmah (pemahaman mendalam). Ia mengingatkan jemaah agar ilmu tidak berhenti hanya sebagai wacana, melainkan diwujudkan dalam tindakan nyata.

​Ia mengkritik fenomena “Jarkoni”—istilah Jawa untuk iso ujar, ora iso nglakoni (bisa bicara, tetapi tidak bisa menjalankan).

​”Kita harus mengubahnya menjadi iso ujar, iso nglakoni. Sedikit ilmu yang benar-benar diamalkan jauh lebih berharga daripada banyak ilmu yang berhenti di tenggorokan,” tegasnya.

​Investasi Amal Jariyah dan Generasi Saleh

​Pembahasan kemudian mengarah pada tiga amal yang pahalanya terus mengalir setelah seseorang meninggal dunia: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakan orang tuanya.

​Sebagai bentuk konkret gerakan dakwah sosial, PCM Gubeng saat ini tengah menggalang Infaq Pembebasan Rumah Tahfidz di lingkungan Masjid Istiqomah. Program ini diharapkan menjadi wadah pembinaan Al-Qur’an sekaligus sarana mencetak generasi muda yang saleh melalui sinergi keluarga, sekolah, dan masyarakat.

​Ketua PCM Gubeng, Ustaz Drs. Sulaiman, MA, beserta pengurus RT/RW setempat mengapresiasi partisipasi jemaah dan masyarakat yang mendukung keberlanjutan program dakwah serta pembangunan Rumah Tahfidz tersebut.

​”Kematian adalah kepastian, tetapi bekal menghadap-Nya harus disiapkan dari sekarang. Kebaikan kecil yang dilakukan secara istiqamah bisa jadi merupakan bekal terbesar kita kelak,” tutup Sholihin. (Farid)

- Advertisement -spot_img

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Latest article