Pendidikan Anak Tugas Siapa? Meluruskan Peran Ayah dan Ibu dalam Keluarga

Must read

- Advertisement -

Surabaya, wartapoint — Pendidikan merupakan instrumen utama dalam mencerdaskan kehidupan bangsa sekaligus membangun peradaban manusia yang bermartabat. Kualitas suatu negara sangat ditentukan oleh sejauh mana perhatian dan kepedulian terhadap tata kelola pendidikan, baik di lingkungan sekolah maupun keluarga.

​Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) merumuskan empat pilar utama pendidikan: learning to know (belajar untuk mengetahui), learning to do (belajar untuk berbuat), learning to be (belajar menjadi diri sendiri), dan learning to live together (belajar untuk hidup bersama).

​Namun, di ranah domestik, sering muncul pertanyaan mendasar: siapakah yang memegang tanggung jawab utama dalam pendidikan anak di rumah?

​Peneliti Lembaga Penelitian dan Pengembangan (Litbang) SD Muhammadiyah 29 Full Day School (FDS) Surabaya, Jatim, M.A., menegaskan bahwa anak merupakan amanah dari Allah SWT yang wajib dijaga dan dididik dengan sebaik-baiknya. Setiap orang tua mendambakan buah hatinya tumbuh menjadi anak yang saleh dan salehah, berbakti, serta bermanfaat bagi agama, nusa, dan bangsa.

​”Untuk mewujudkan impian tersebut, pendidikan anak harus menjadi pusat perhatian. Kolaborasi yang harmonis antara orang tua dan guru menjadi kunci sukses dalam membentuk karakter unggul dan mengantarkan anak menuju masa depan yang gemilang,” ujar Jatim dalam keterangannya kepada wartapoint.id, Jumat (7/8/2026).

​Pembagian Peran Ayah dan Ibu dalam Islam

​Dalam pandangan Islam, pendidikan anak adalah tanggung jawab kolektif antara ayah dan ibu. Keduanya memiliki porsi dan kewajiban masing-masing yang saling melengkapi.

  • Peran Ayah (Qawwam): Bertindak sebagai pemimpin dan penanggung jawab utama keluarga. Ayah berfungsi sebagai teladan, pembuat aturan, pembimbing arah masa depan anak, serta penyedia dukungan moral dan rasional.
  • Peran Ibu (Madrasah al-Ula): Berperan sebagai pendidik utama dan sekolah pertama bagi anak sejak dalam kandungan. Ibu bertugas membangun kedekatan emosional dan kelembutan setiap hari, serta mengajarkan bahasa, dasar perilaku, dan nilai-nilai kehidupan sehari-hari di rumah.

​Pentingnya pendidikan orang tua ini ditegaskan dalam hadis riwayat Al-Hakim (No. 7679), di mana Rasulullah SAW bersabda:

“Tiada suatu pemberian yang lebih utama dari orang tua kepada anaknya selain pendidikan yang baik.

​Ulama ternama Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya ‘Ulum al-Din (3/72) juga menekankan bahwa metode melatih dan mendidik anak merupakan prioritas tertinggi melebihi urusan lainnya.

“Anak merupakan amanah di tangan kedua orang tuanya, dan hatinya yang masih bersih adalah permata yang sangat berharga dan murni. Ia menerima apa pun yang diukirkan padanya. Jika dibiasakan dan dididik melakukan kebaikan, ia akan tumbuh menjadi baik dan bahagia di dunia dan akhirat. Sebaliknya, jika dibiasakan buruk dan diterlantarkan seperti hewan ternak, ia akan celaka dan binasa, serta dosanya turut ditanggung oleh orang-orang yang berkewajiban mendidiknya.

​Hal ini sejalan dengan hadis riwayat Bukhari dan Muslim bahwa setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, dan kedua orang tualah yang mewarnai keyakinan serta karakter sang anak.

​Meluruskan Mitos “Pendidikan Anak Hanya Tugas Ibu”

​Di tengah masyarakat, kerap berkembang persepsi keliru bahwa pendidikan anak sepenuhnya merupakan kewajiban ibu, sementara ayah hanya bertugas mencari nafkah. Realitas di lapangan menunjukkan mayoritas wali murid yang hadir dalam pengambilan laporan hasil belajar (rapor) di berbagai jenjang sekolah adalah para ibu.

​Pandangan tersebut dinilai tidak tepat jika mengkaji teks Al-Qur’an dan As-Sunnah, yang mayoritas khitab (objek lawan bicara) mengenai perintah pendidikan keluarga justru ditujukan kepada laki-laki atau ayah.

​Ibnu Katsir saat menafsirkan Surat At-Tahrim menjelaskan pandangan Ali bin Abi Thalib RA mengenai kewajiban seorang ayah untuk mengetahui perkara yang wajib serta mengajarkannya kepada keluarga. Sebagian ulama bahkan menyebutkan bahwa di antara manusia yang paling berat siksanya di hari kiamat adalah seorang laki-laki yang membiarkan keluarganya dalam kebodohan.

​Rasulullah SAW juga menegaskan kepemimpinan seorang ayah dalam hadis riwayat Bukhari (No. 2278):

“Setiap kalian adalah pemimpin, dan akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang pria adalah pemimpin bagi keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.

​Teladan Teladan Pengasuhan Ayah dalam Al-Qur’an

​Jika diteliti lebih dalam, Al-Qur mekamkan banyak kisah dialog pendidikan antara ayah dan anak:

  1. Luqman Al-Hakim: Dialog penanaman tauhid dan akhlak kepada putranya yang diabadikan dalam Surat Luqman ayat 13.
  2. Nabi Ibrahim AS: Dialog kesabaran dan ketaatan bersama putranya, Nabi Ismail AS.
  3. Nabi Muhammad SAW: Pengasuhan mendalam terhadap putrinya, Fatimah AZ-Zahra RA, mendidiknya hingga tumbuh menjadi pribadi yang kuat, cerdas, dan sederhana.

​Berdasarkan dalil-dalil tersebut, Litbang SD Muhammadiyah 29 FDS Surabaya menyimpulkan bahwa tanggung jawab pendidikan anak adalah milik kedua orang tua secara utuh sesuai dengan peran masing-masing. Ayah dan ibu merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dalam membentuk generasi masa depan. (yupan)

- Advertisement -spot_img

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Latest article