
Sidoarjo, wartapoint — Forum Silaturahim Kepala Sekolah dan Madrasah (FOSKAM) SD/MI Muhammadiyah Jawa Timur bekerja sama dengan media Jawa Pos menggelar Pelatihan Menulis Opini di SD Muhammadiyah 1 Pucanganom, Sidoarjo, Sabtu (15/8/2026).
Kegiatan ini diikuti oleh puluhan kepala sekolah dan delegasi guru SD/MI Muhammadiyah dari berbagai daerah di Jawa Timur guna mengasah kemampuan menulis opini yang kritis, konstruktif, dan berdampak bagi kebijakan pendidikan.
Ketua FOSKAM SD/MI Muhammadiyah Jawa Timur, Edy Susanto, M.Pd., menegaskan bahwa aktivitas menulis merupakan budaya literasi yang telah lama mengakar dalam gerakan Muhammadiyah. Menurutnya, sebuah karya tulis juga berfungsi sebagai warisan pemikiran yang tak lekang oleh waktu.
“Menulis itu adalah budaya yang dilakukan oleh Muhammadiyah sejak dulu. Sekolah Muhammadiyah itu cirinya bagus di literasi. Dengan berkarya, kita akan dikenang. Walaupun kita sudah tidak di sekolah itu, tetapi karya tulisan akan selalu diingat,” ujar Edy.
Redaktur Jawa Pos sekaligus narasumber kegiatan, Andri Teguh Priyantoro, memaparkan bahwa posisi guru sangat strategis dalam menyuarakan isu pendidikan melalui media massa. Sebab, guru berhadapan langsung dengan dinamika riil di ruang kelas yang sering kali tidak terjangkau oleh para pemangku kebijakan di tingkat pusat.
Ia juga menekankan bahwa penulisan opini tidak sekadar luapan emosi, melainkan harus memenuhi kriteria ilmiah-populer.
“Opini adalah tulisan yang menyajikan pandangan dan analisis terhadap suatu masalah. Yang kita angkat itu minimal harus ada masalah, bagaimana analisisnya, dan seperti apa solusinya,” jelas Andri.
Menanggapi pelatihan tersebut, Kepala MI Muhammadiyah 27 Surabaya, Sixtynna Eka Octaviany, S.Pd., mengapresiasi materi yang disajikan. Menurutnya, kegiatan ini menjadi wadah penting bagi para pendidik untuk mengubah gagasan intuitif menjadi tulisan yang sistematis dan berbasis data.
“Guru dan kepala sekolah bukan hanya pengajar, tetapi juga agen perubahan dan pemikir pendidikan. Melalui tulisan opini, kami dapat menyampaikan gagasan, pengalaman praktik baik, maupun kritik yang membangun kepada pemangku kebijakan dan masyarakat luas,” ungkap Sixtynna.
Sebagai bentuk tindak lanjut, pihak MI Muhammadiyah 27 Surabaya berencana membentuk Komunitas Literasi Guru di internal sekolah sebagai wadah bedah naskah dan evaluasi tulisan secara berkala. Gerakan literasi ini nantinya juga akan ditularkan kepada para siswa kelas atas melalui kegiatan dasar jurnalistik guna melatih pola pikir kritis sejak dini.
Melalui sinergi FOSKAM SD/MI Muhammadiyah Jatim dan media massa ini, para pendidik diharapkan tidak hanya mendidik lewat lisan di dalam kelas, tetapi juga mampu mengawal arah kebijakan pendidikan nasional melalui gagasan yang dituangkan dalam bentuk tulisan. (Latif/yupan)
#beritanasional #indonesia #jawatimur #surabaya #muhammadiyah #sekolah





