Transformasi Paradigma Pendidikan: Antara Kemajuan Teknologi dan Tantangan Karakter Generasi Alfa

Must read

- Advertisement -

Surabaya, wartapoint – Perkembangan zaman dan pesatnya kemajuan teknologi informasi membawa perubahan fundamental dalam dunia pendidikan. Hal ini menuntut para pendidik, khususnya guru senior yang telah lama mengabdi, untuk melakukan metamorfosis dalam menyikapi pergeseran paradigma pembelajaran dari masa ke masa.

​Peneliti dan Pengembang (Litbang) SD Muhammadiyah 29 Surabaya, Ustadz Jatim, M.A., menyoroti dinamika perubahan paradigma pendidikan ini secara mendalam. Mengutip definisi Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), paradigma dalam konteks ini dimaknai sebagai kerangka berpikir atau cara pandang utama dalam memahami dan menyikapi suatu permasalahan.

​Menurut Ustadz Jatim, perbedaan paling mencolok antara paradigma pendidikan dulu dan sekarang bermula dari pergeseran pusat pembelajaran (center of learning), yaitu dari berpusat pada guru (teacher-centered) menjadi berpusat pada siswa (student-centered).

​”Dahulu, guru merupakan sumber utama ilmu pengetahuan dan siswa cenderung pasif mendengarkan. Perangkat belajar pun terbatas pada buku teks cetak dan papan tulis. Namun saat ini, guru berperan sebagai fasilitator dan mentor. Siswa didorong aktif memanfaatkan internet, media digital, hingga kecerdasan buatan (AI) untuk berpikir kritis dan memecahkan masalah,” paparnya.

​Pergeseran ini berdampak langsung pada orientasi output kelulusan. Pendidikan masa kini berfokus mencetak lulusan yang adaptif, kreatif, fasih digital, serta memiliki keseimbangan antara keterampilan teknis (hard skill) dan kemampuan sosial (soft skill).

​Meskipun membawa banyak dampak positif seperti akses informasi tanpa batas dan kurikulum yang lebih fleksibel, perubahan paradigma ini juga menyisakan keresahan tersendiri, terutama terkait sikap dan adab peserta didik.

​Pengaruh gawai (gadget) yang masif pada Generasi Alfa memicu tantangan baru, mulai dari distraksi digital, penurunan fokus belajar, hingga kecenderungan bersikap pasif, acuh tak acuh, dan memiliki mentalitas yang rapuh. Tantangan dalam dunia pendidikan pun menjadi kian kompleks.

​Menghadapi fenomena tersebut, Ustadz Jatim menekankan pentingnya sinergi yang kuat antara sekolah dan lingkungan keluarga.

​”Semoga Allah SWT senantiasa membuka hati para orang tua murid agar lebih proaktif melakukan pendampingan dan pengawasan, baik terkait penggunaan gawai maupun proses belajar di rumah, sehingga tumbuh kembang dan karakter anak dapat terjaga dengan baik,” pungkasnya. (yupan)

#pendidikan #beritanasional #indonesia #jawatimur #sekolah

- Advertisement -spot_img

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Latest article