Angkat Filosofi “Abantal Ombâ’, Asapo’ Angèn”, Gagasan Wakaf Pesisir Madura Tembus Forum Global

Must read

- Advertisement -

Jakarta, wartapoint – Nilai-nilai kearifan lokal Madura kembali mendapat perhatian di panggung akademik internasional. Gagasan pemberdayaan masyarakat pesisir berbasis wakaf produktif dan ekonomi biru (blue economy) dipresentasikan dalam forum The 2nd Global Conference on Waqf Development (2GLOW) 2026.

​Gagasan tersebut lahir dari penelitian kolaboratif antara Universitas Muhammadiyah Surabaya dan STAI Al-Mujtama’ Pamekasan yang berjudul “Abantal Ombâ’, Asapo’ Angèn”: Innovating Productive Waqf through Madurese Local Wisdom toward a Sustainable Blue Economy.

​Penelitian ini disusun oleh empat akademisi, yakni Mubarak Usman, M.Ak., M.H., CTT (penulis pertama), Assoc. Prof. Dr. Dian Berkah, S.HI., M.HI (penulis kedua), Hasan Cholis, S.E., M.H (penulis ketiga), dan Khairul Jannah, S.Pd.I., M.M (penulis keempat).

​Rangkaian konferensi global ini berlangsung selama tiga hari, pada 13–15 Oktober 2026. Presentasi dibuka di Menara Syariah PIK 2 Jakarta (13/10), dilanjutkan dengan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Internasional di Teras Lembang, Bandung (14/10), dan ditutup di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta (15/10).

​Filosofi Laut dan Ekonomi Biru Berkelanjutan

​Penelitian ini menarik perhatian peserta forum karena mengangkat filosofi hidup masyarakat Madura, “Abantal Ombâ’, Asapo’ Angèn” (berbantal gelombang, berselimut angin). Ungkapan ini dimaknai sebagai cerminan nilai ketangguhan, keberanian, kerja keras, solidaritas, dan adaptabilitas masyarakat pesisir dalam menghadapi tantangan zaman.

​Penulis pertama penelitian, Mubarak Usman, menjelaskan bahwa nilai-nilai kebudayaan tersebut diintegrasikan dengan prinsip tata kelola wakaf modern yang transparan dan profesional.

​”Melalui integrasi modal sosial dan kearifan lokal Madura, wakaf produktif diarahkan untuk menyokong sektor-sektor vital masyarakat pesisir, mulai dari perikanan, pengolahan hasil laut, UMKM, hingga pariwisata berbasis digital,” ujar Mubarak.

​Ia menekankan, pengembangan ekonomi pesisir melalui model Community-Based Blue Waqf ini wajib berjalan beriringan dengan kelestarian lingkungan. Pertumbuhan ekonomi tidak boleh mengorbankan ekosistem laut dan keberlanjutan sumber daya pesisir.

​Apresiasi dari Badan Wakaf Indonesia

​Gagasan ilmiah yang memadukan kearifan lokal Madura dengan pengelolaan wakaf modern ini mendapat apresiasi positif dari Badan Wakaf Indonesia (BWI) Pusat.

​Dalam sesi diskusi interaktif, pengamat dan pakar BWI Pusat, Dr. Sulistyowati, S.E., M.Si., CWC, menyampaikan tanggapannya terhadap potensi penerapan riset tersebut di lapangan. BWI menilai langkah tim peneliti berani dan inovatif dalam mentransformasi filosofi lokal menjadi instrumen pemberdayaan ekonomi riil.

​Apresiasi ini menjadi momentum penting bahwa tradisi dan nilai lokal tidak hanya berfungsi sebagai warisan budaya, tetapi juga sanggup menjadi solusi strategis bagi pembangunan ekonomi masyarakat berkelanjutan dari panggung global. (yupan)

- Advertisement -spot_img

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Latest article