Tanamkan Kedisiplinan dan Bebas Bullying, MIM Dupan Surabaya Perkuat Karakter Siswa Lewat Upacara Bendera

Must read

- Advertisement -

Surabaya, wartapoint – MI Muhammadiyah 28 (MIM Dupan) Surabaya terus memperkuat pendidikan karakter para siswanya melalui kegiatan upacara bendera rutin pada Senin (19/10/2026). Selain memupuk rasa nasionalisme, momentum ini dimanfaatkan untuk menanamkan nilai kedisiplinan serta menegaskan komitmen madrasah ramah anak yang bebas dari tindakan perundungan (bullying).

​Upacara yang berlangsung di halaman madrasah tersebut diikuti secara khidmat oleh seluruh peserta didik, jajaran guru, dan tenaga kependidikan.

​Dalam amanatnya, pembina upacara menekankan bahwa kedisiplinan merupakan kunci utama keberhasilan peserta didik. Kedisiplinan tidak hanya diukur dari ketepatan waktu hadir di sekolah, tetapi juga melalui kepatuhan terhadap tata tertib, kesungguhan belajar, serta rasa hormat kepada guru dan sesama teman.

​Kepala MIM Dupan Surabaya, Rohim, M.Pd., menyampaikan bahwa pembentukan karakter disiplin harus berlandaskan kesadaran diri peserta didik, bukan karena ancaman sanksi.

​”Kedisiplinan yang kita tanamkan adalah kesadaran dari dalam diri anak-anak, bukan karena takut dihukum. Kami ingin membiasakan mereka menjadi pribadi yang bertanggung jawab, santun, dan taat aturan secara sukarela,” ujar Rohim kepada media wartapoint.id, Senin (19/10/2026).

​Komitmen Madrasah Happy Tanpa Bully

​Selain kedisiplinan, pesan utama yang digaungkan dalam kegiatan tersebut adalah pemenuhan hak anak untuk belajar di lingkungan yang aman, nyaman, dan menyenangkan.

​Rohim menegaskan bahwa pihak sekolah mengambil sikap tegas terhadap segala bentuk bullying, baik berupa ejekan fisik, verbal, maupun tindakan yang mengucilkan sesama siswa. Menurutnya, sekolah harus menjadi rumah kedua yang melindungi seluruh anak tanpa terkecuali.

​”Kami menyuarakan gerakan ‘Madrasah Happy Tanpa Bully’. Tidak ada toleransi untuk perundungan dalam bentuk apa pun, baik ejekan nama, fisik, maupun latar belakang keluarga. Kami mendorong anak-anak untuk berani menolak perundungan dan tidak ragu melapor kepada guru jika melihat atau mengalami tindakan yang tidak menyenangkan,” tegas Rohim.

​Untuk mewujudkan hal tersebut, MIM Dupan menerapkan budaya interaksi yang santun dalam keseharian, seperti membiasakan budaya menyapa, membantu teman yang kesulitan, serta menyelesaikan perbedaan pendapat secara damai.

​Rohim menambahkan, keberhasilan menciptakan madrasah yang aman dan ramah anak membutuhkan sinergi yang kuat dari seluruh elemen, termasuk keterlibatan aktif para orang tua murid.

​”Upacara bendera ini bukan sekadar rutinitas formalitas, melainkan ruang edukasi karakter secara berkala. Lewat kolaborasi antara sekolah dan orang tua, kami optimistis MIM Dupan dapat mencetak generasi yang cerdas, berakhlak mulia, serta memiliki empati yang tinggi terhadap sesama,” pungkasnya. (yupan)

- Advertisement -spot_img

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Latest article