
Sidoarjo, wartapoint — Menanggapi fenomena kemarau panjang dan cuaca panas ekstrem yang menyengat, keluarga besar SMA Muhammadiyah 1 Taman (Smamita) menggelar Salat Istisqa secara berjamaah pada Jumat (23/10/2026) pagi.
Kegiatan yang dimulai pukul 06.45 WIB tersebut dipusatkan di Sport Center Smamita, Jalan Suningrat Nomor 5, Ketegan, Kecamatan Taman, Kabupaten Sidoarjo.
Agenda spiritual ini digelar sebagai ikhtiar batin untuk memohon turunnya hujan yang membawa keberkahan, sekaligus menjadi momentum evaluasi diri (muhasabah) atas kondisi lingkungan hidup yang kian memprihatinkan.
Dalam pelaksanaan ibadah tersebut, bertindak sebagai imam yakni Ustadz Ahmad Syihabuddin, S.Sos., Al-Hafizh, yang juga merupakan Staf Kesiswaan Smamita. Sementara itu, khotbah disampaikan oleh Wakil Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Sepanjang, Dr. H. Badarman, MA.
Kemarau dan Refleksi Pelestarian Lingkungan
Dalam khotbahnya di hadapan jamaah, Dr. H. Badarman mengajak seluruh keluarga besar sekolah untuk merenungkan fenomena cuaca ekstrem dan perubahan iklim yang tengah dirasakan masyarakat luas.
Ia menegaskan bahwa kondisi alam saat ini harus disikapi dengan meningkatkan kesadaran spiritual yang beriringan dengan kepedulian terhadap kelestarian lingkungan.
“Berbagai kerusakan alam, mulai dari kebakaran hutan, polusi udara, hingga kebiasaan membakar sampah, tidak dapat dilepaskan dari perilaku manusia yang kurang bertanggung jawab terhadap lingkungan,” ujar Badarman.
Menurutnya, kerusakan alam merupakan pengingat agar manusia tidak sekadar mengeluhkan keadaan, tetapi juga berani mengevaluasi perilaku serta memperbaiki kebiasaan sehari-hari.
“Salat Istisqa bukan sekadar ritual memohon hujan, melainkan juga momentum untuk memperkuat hubungan dengan Allah SWT dan membangun tanggung jawab bersama dalam menjaga bumi,” tegasnya.
Menjadi Ulul Albab dan Empat Ikhtiar Hadapi Kemarau
Lebih lanjut, Badarman mengutip Al-Qur’an Surah Ali Imran ayat 190–191 mengenai tanda-tanda kebesaran Allah SWT dalam penciptaan langit, bumi, serta pergantian malam dan siang.
Dengan merujuk pada pemikiran ilmuwan ternama Profesor Ahmad Baiquni dan Profesor Syahrul Alim, ia mendorong para siswa dan guru untuk mengembangkan pola pikir kritis yang berlandaskan keimanan.
“Hendaklah kita menjadi ulul albab, yaitu orang-orang yang mampu memadukan kecerdasan akal dengan kesadaran spiritual serta senantiasa merenungkan tanda-tanda kebesaran Allah SWT dalam penciptaan langit dan bumi,” tuturnya.
Dalam kesempatan itu, ia juga memaparkan empat ikhtiar utama yang perlu dilakukan umat Islam saat menghadapi kemarau berkepanjangan:
- Istiqamah dalam meningkatkan ketaatan.
- Isti’anah atau memohon pertolongan kepada Allah SWT.
- Salat Istisqa sebagai bentuk permohonan tulus secara berjamaah.
- Istighfar sebagai wujud introspeksi diri atas kesalahan yang dilakukan.
Rangkaian ibadah ditutup dengan doa dan munajat bersama secara khusyuk. Seluruh jamaah memohon agar Allah SWT segera menurunkan hujan yang lebat, merata, dan bermanfaat, serta menjauhkan masyarakat dari berbagai ancaman bencana alam.
melalui kegiatan ini, keluarga besar Smamita menegaskan bahwa keimanan dan ilmu pengetahuan harus berjalan beriringan untuk membentuk pribadi yang bijaksana, berakhlak, serta peduli terhadap kelestarian alam.
Reporter/Penulis: Yumna
Editor: (yupan)





