
Surabaya, wartapoint — Menjadi seorang pendidik bukan sekadar berdiri di depan kelas dan menyampaikan materi pelajaran. Lebih dari itu, profesi guru menuntut kemampuan memahami karakter anak, membangun komunikasi yang efektif, menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, serta menjadi teladan dalam setiap tindakan.
Pengalaman berharga inilah yang dirasakan oleh Dinah Oktavia, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSURA), saat menjalani kegiatan praktik mengajar di RA Daarun Najah, Surabaya. Bagi Dinah dan para calon pendidik lainnya, praktik lapangan menjadi ruang vital untuk menjembatani teori akademik di bangku kuliah dengan realitas dunia pendidikan anak usia dini (PAUD).
Menguji Teori di Tengah Dinamika Kelas
Di ruang kelas PAUD, berbagai teori mengenai perkembangan anak, strategi pembelajaran, hingga teknik pengelolaan kelas diuji secara langsung. Dinah dihadapkan pada karakter anak usia dini yang sangat beragam—mulai dari anak yang sangat aktif berbicara, pemalu, hingga mereka yang membutuhkan pendekatan personal agar bisa beradaptasi.
Kondisi ini menuntut calon guru untuk tidak hanya menguasai materi, tetapi juga mengasah kesabaran, kreativitas, dan fleksibilitas. Melalui interaksi harian di RA Daarun Najah, Dinah belajar bahwa dunia anak usia dini tidak bisa dilepaskan dari esensi bermain, bernyanyi, bercerita, dan bereksplorasi.
”Anak-anak tidak harus selalu belajar dengan duduk diam mendengarkan penjelasan. Justru melalui aktivitas yang sesuai dengan dunia mereka, pengalaman belajar yang bermakna dapat terbangun,” ungkapnya.
Menerapkan Pembelajaran yang Humanis dan Fleksibel
Salah satu pelajaran penting yang dipetik dari praktik mengajar ini adalah pentingnya memandang setiap anak sebagai individu yang unik. Mengingat setiap anak memiliki minat, kebutuhan, dan gaya belajar yang berbeda, guru dituntut untuk menghadirkan pembelajaran yang adaptif agar setiap potensi anak dapat berkembang optimal.
Di sisi lain, keberadaan program praktik mengajar ini menjadi sarana kolaborasi sinergis antara perguruan tinggi dan satuan pendidikan dasar:
- Bagi Perguruan Tinggi (UMSURA): Menjadi wadah bagi mahasiswa untuk menyalurkan gagasan inovatif dan riset akademik ke dalam praktik nyata.
- Bagi Satuan Pendidikan (RA Daarun Najah): Mendapatkan suntikan energi baru, kreativitas, serta semangat dari generasi calon pendidik.
Membentuk Karakter Calon Pendidik Masa Depan
Praktik mengajar pada akhirnya bukan sekadar pemenuhan kewajiban akademik perguruan tinggi, melainkan sebuah proses pembentukan karakter profesional. Melalui pengalaman ini, para mahasiswa menyadari bahwa menjadi seorang guru membutuhkan kesiapan intelektual sekaligus kesiapan hati.
Pengalaman Dinah Oktavia di RA Daarun Najah menegaskan pentingnya kehadiran calon pendidik di tengah-tengah anak-anak. Sebelum seorang guru mampu mengajarkan banyak hal, ia harus terlebih dahulu menjadi pembelajar yang konsisten.
Praktik mengajar hari ini adalah investasi nyata untuk menghadirkan figur-figur guru masa depan yang lebih siap, kreatif, dan empati terhadap dunia anak. (yupan)





