Melihat Sisi Terang Perbedaan Idulfitri: Dari “Ruang Kelas” Toleransi hingga Berkah Ekonomi yang Berlipat

Must read

- Advertisement -

Jakarta, wartapoint — Perbedaan penetapan 1 Syawal 1447 H di tengah masyarakat Indonesia seringkali dipandang sebagai tantangan. Namun, bagi Farid Ari Affandi, Anggota MPKS PP Muhammadiyah sekaligus Fasilitator Psikososial KawanMu, fenomena ini justru menyimpan “mutiara” hikmah yang memperkaya kualitas hidup berbangsa.

​Melalui catatan refleksinya, Farid mengajak masyarakat untuk memakai kacamata positif dalam memandang perbedaan hari raya. Menurutnya, setidaknya ada empat makna besar yang bisa dipetik sebagai pelajaran berharga.

​1. Simulasi Toleransi bagi Generasi Muda

​Farid menyebut perbedaan hari raya sebagai “Ruang Kelas” toleransi yang nyata. Momen ini adalah praktik langsung kebinekaan yang sangat efektif untuk mengedukasi anak-anak tentang esensi menghargai pilihan orang lain.

​”Mereka melihat langsung bagaimana perbedaan dipraktikkan secara damai. Ini membentuk kematangan emosional dan karakter toleran sejak dini,” tulisnya.

​2. Roda Ekonomi Berputar Lebih Lama

​Secara realitas sosial, perayaan yang jatuh pada hari berbeda justru memperpanjang nafas ekonomi rakyat. Durasi perputaran uang di sektor UMKM menjadi lebih panjang.

​Pedagang pasar, penjual kulit ketupat, hingga pembuat kue kering memiliki jendela waktu lebih luas untuk meraup rezeki karena gelombang kebutuhan masyarakat terbagi, tidak menumpuk di satu hari saja.

​3. Bukti Kedewasaan dan Resiliensi Bangsa

​Mampu berbeda dalam hal prinsipil tanpa mengorbankan ikatan persaudaraan adalah bukti ketahanan sosial (resiliensi) Indonesia. Farid mencontohkan kondisi di keluarga besarnya sendiri yang merayakan Lebaran di hari yang berbeda namun tetap harmonis.

​Sambil berseloroh, ia mengutip keceriaan para keponakannya:

​”Kata keponakan yang kecil, asyik THR dapat dua kali. Kata yang kuliah, bisa makan ketupat dan rendang dua kali. Jadi, be positive adalah menu bagi mereka yang hidup dekat dengan perbedaan.”

​4. Marathon Perayaan: Berkah Beruntun bagi Industri Kreatif

​Menariknya, Ramadhan 1447 H kali ini berdekatan dengan berbagai perayaan umat beragama lain, mulai dari Imlek, Pra-Paskah, Nyepi, hingga Nauruz. Fenomena ini menciptakan dampak ekonomi berantai yang luar biasa.

​Para pengrajin makanan, tukang cetak spanduk, hingga industri pengemasan (packaging) mendapatkan pesanan berkali-kali lipat dengan tema yang berganti-ganti. “Tukang roti angkat loyang berkali-kali, desainer iklan ganti desain berkali-kali. Ini adalah rezeki yang terus mengalir bagi pelaku ekonomi,” tambahnya.

​Pesan untuk Pemudik

​Menutup catatannya, Farid Ari Affandi yang juga aktif sebagai fasilitator psikososial menitipkan pesan hangat bagi para pejuang mudik yang masih berada di lintasan jalan.

​”Salam satu aspal ya… Bagi yang masih dalam perjalanan mudik, tetap hati-hati di jalan. Mari kita sambut hari kemenangan dengan semangat persatuan dalam bingkai NKRI,” pungkasnya.

- Advertisement -spot_img

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Latest article