Surabaya, wartapoint – Perayaan Lebaran Ketupat atau yang akrab disebut Bakdo Kupat oleh masyarakat Jawa, kembali hadir sebagai fenomena unik tepat sepekan setelah 1 Syawal. Lebih dari sekadar tradisi kuliner, tokoh masyarakat/tokoh agama, H. Sutikno, S.Sos, M.H, menegaskan bahwa momentum ini adalah titik lebur antara ketaatan agama dan kekayaan budaya yang tak ternilai.
Menurut Sutikno, perayaan yang jatuh pada 8 Syawal (26/3) ini harus dipandang dari tiga perspektif utama agar maknanya tidak luntur oleh pergeseran zaman.
1. Perspektif Agama: Penyempurna Ibadah Ramadhan
Sutikno menjelaskan bahwa secara syariat, Lebaran Ketupat erat kaitannya dengan puasa sunnah enam hari di bulan Syawal. Merujuk pada hadis Nabi Muhammad ﷺ, ibadah ini merupakan penyempurna puasa Ramadhan yang nilai pahalanya setara dengan berpuasa setahun penuh.
”Jika Idul Fitri adalah kemenangan setelah sebulan penuh berpuasa, maka Lebaran Ketupat adalah selebrasi rasa syukur atas tuntasnya ibadah tambahan yang menyempurnakan kesucian diri kita,” ujarnya.
2. Perspektif Budaya: Warisan Sunan Kalijaga
Dalam tinjauan budaya, Sutikno menyoroti bagaimana Islam mampu berakulturasi dengan kearifan lokal melalui peran Sunan Kalijaga. Penggunaan ketupat sebagai simbol dakwah mengandung filosofi yang sangat dalam:
- Ngaku Lepat: Mengakui kesalahan. Anyaman janur yang rumit melambangkan dosa manusia yang hanya bisa diurai dengan silaturahmi dan saling memaafkan.
- Laku Papat: Empat tindakan inti yang meliputi Lebaran (usai), Luberan (melimpah/sedekah), Leburan (meleburnya dosa), dan Laburan (kembali suci).
3. Perspektif Tradisi: Penjaga Kohesi Sosial
Secara sosial, tradisi saling mengantar ketupat lengkap dengan sayur lodeh atau opor ayam antar tetangga dianggap sebagai benteng pertahanan melawan sikap individualistis modern.
”Di tengah kehidupan yang serba digital ini, tradisi gotong royong dalam Lebaran Ketupat menjadi pengingat pentingnya kebersamaan. Ini adalah momen memperkuat kohesi sosial di masyarakat kita,” imbuhnya.
Kesimpulan: Harmoni Hablun Minallah dan Hablun Minannas
Menutup pernyataannya, Sutikno menekankan bahwa akulturasi ini tidak bertujuan menggantikan hari raya utama, melainkan memperkayanya. Melalui sebutir ketupat, masyarakat diajarkan untuk menjaga konsistensi ibadah pasca-Ramadhan sekaligus berbagi rezeki dengan sesama.
”Ini adalah bukti nyata betapa indahnya harmoni antara hablun minallah (hubungan dengan Tuhan) dan hablun minannas (hubungan dengan manusia). Lebaran Ketupat adalah simbol dari kerendahan hati untuk mengakui kesalahan dan menjaga kerukunan,” pungkasnya. (yupan)




