SD Muhammadiyah 10 Surabaya Ubah Nama Kelas Jadi Kota Kejayaan Islam, Ini Tujuannya

Must read

- Advertisement -

Surabaya, wartapoint – Ada suasana baru yang terasa berbeda di SD Muhammadiyah 10 Surabaya (Mumtas) pada awal Tahun Ajaran 2026–2027. Jika selama ini setiap kelas menggunakan nama-nama Asmaul Husna, kini Mumtas menghadirkan konsep yang lebih global dan inspiratif dengan mengangkat nama-nama kota yang menjadi simbol kejayaan peradaban Islam dunia.

Perubahan ini bukan sekadar pergantian nama kelas. Di balik setiap nama tersimpan jejak sejarah, ilmu pengetahuan, dakwah, dan peradaban yang pernah menerangi dunia. Mulai dari Andalusia dan Cordova di Eropa, Baghdad dan Damaskus di Timur Tengah, hingga Samarkand, Kairo, dan Istanbul yang dikenal sebagai pusat ilmu pengetahuan dan kebudayaan Islam.

Kepala SD Muhammadiyah 10 Surabaya, M. Khoirul Anam, M.Pd.I., menjelaskan bahwa konsep tersebut dirancang untuk menggambarkan perjalanan peradaban Islam dari Jazirah Arab, berkembang ke Timur Tengah, menjangkau Afrika, Asia Tengah, hingga Eropa.

“Ketika anak-anak mendengar nama Andalusia, Istanbul, Kairo, atau Makkah setiap hari, mereka akan mulai bertanya dan mencari tahu tentang kota tersebut. Dari rasa ingin tahu itulah lahir semangat belajar. Harapannya, suatu saat mereka tidak hanya mengenal kota-kota itu melalui buku, tetapi bisa berkunjung, belajar, bahkan menjadi bagian dari peradaban dunia,” ungkap anggota Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Pimpinan Pusat Muhammadiyah tersebut.

Melalui program ini, Mumtas ingin menanamkan keyakinan bahwa anak-anak harus memiliki mimpi yang besar. Sebab, kota-kota yang kini menjadi nama kelas mereka dahulu juga dibangun oleh para pemimpi, ilmuwan, ulama, pemimpin, dan pejuang yang mengabdikan hidupnya untuk ilmu dan kemajuan umat.

Kelas 1 menggunakan nama Cordova, pusat ilmu pengetahuan Islam di Andalusia, Andalusia, wilayah kejayaan Islam di Eropa, dan Granada, kota terakhir kekuasaan Islam di Spanyol. Kelas 2 memakai nama Baghdad, ibu kota Daulah Abbasiyah yang melahirkan banyak ilmuwan besar, Damaskus, pusat pemerintahan Daulah Umayyah, serta Kufah, kota yang dikenal sebagai pusat ilmu fikih dan bahasa Arab.

Untuk Kelas 3, dipilih nama Madinah, pusat peradaban Islam pertama yang dibangun Rasulullah SAW, Makkah, kota suci umat Islam, dan Thaif, kota bersejarah dalam perjalanan dakwah Islam. Sementara Kelas 4 menggunakan Samarkand, pusat ilmu dan astronomi Islam, Bukhara, kota kelahiran banyak ulama besar dunia, serta Kashgar, gerbang penyebaran Islam di Asia Timur.

Pada Kelas 5 terdapat nama Kairo, pusat ilmu Islam dan rumah bagi Universitas Al-Azhar, Alexandria, pusat ilmu pengetahuan dunia Islam, serta Fez di Maroko yang menjadi lokasi Universitas Al-Qarawiyyin, universitas Islam tertua di dunia yang masih berdiri hingga kini.

Sedangkan Kelas 6 menggunakan nama Bursa, pusat pemerintahan awal Kesultanan Utsmani, Konya, pusat ilmu dan tasawuf Islam yang melahirkan banyak pemikir besar, serta Istanbul, kota megah yang menjadi pusat peradaban Islam Utsmani selama berabad-abad.

Dari ruang-ruang kelas sederhana di Surabaya, Mumtas sedang menanamkan pesan penting kepada para siswanya: belajarlah setinggi mungkin, karena ilmu dapat membawa seseorang menjelajahi dunia. Siapa tahu, kelak anak-anak yang belajar di kelas Cordova, Kairo, atau Istanbul benar-benar akan menapakkan kaki di kota-kota tersebut, melanjutkan jejak kejayaan peradaban Islam dengan karya dan prestasi mereka sendiri.

(Abi Saffa)

- Advertisement -spot_img

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Latest article