
Surabaya, wartapoint — Bagi Student Lighthouse Team (SLhT) atau IPM KIDS SD Muhammadiyah 16 Surabaya, bencana alam bukan sekadar peristiwa yang dilihat dari pemberitaan. Di balik gempa, erupsi gunung api, kebakaran, maupun bencana lainnya, ada manusia yang kehilangan rumah, sekolah, pekerjaan, hingga harus berjuang memulihkan kehidupannya.
Kesadaran tersebut menjadi perhatian utama dalam diskusi kebencanaan yang digelar IPM KIDS di meeting room SD Muhammadiyah 16 Surabaya, Selasa (8/9/2026). Kegiatan di Sekolah Kreatif Baratajaya, sebutan akrab sekolah tersebut, dimulai pukul 09.00 WIB.
Ketua SLhT Noura Malia memimpin diskusi dengan mengajak anggota IPM KIDS melihat berbagai fenomena bencana yang terjadi di Indonesia. Namun, ia tidak ingin pembahasan berhenti pada pertanyaan tentang bagaimana bencana terjadi.
“Banyak fenomena bencana yang terjadi. Kita harus peduli, respek, dan juga bergerak. Apa yang harus kita lakukan?” tanya Noura.
Pertanyaan tersebut kemudian membawa siswa pada pembahasan yang lebih luas. Mereka mulai memikirkan kondisi masyarakat yang terdampak serta bentuk bantuan yang dapat dilakukan oleh seorang pelajar.
Wakil Kepala SD Muhammadiyah 16 Surabaya, Suyono, S.Si., memberikan penjelasan mengenai proses terjadinya gunung meletus, lapisan bumi, hingga aktivitas gunung api.
“Indonesia memiliki banyak gunung api yang masih aktif. Karena itu, kita harus selalu waspada dan memahami informasi yang benar tentang bencana,” jelas Suyono.
Ia juga menjelaskan bahwa gempa bumi menjadi salah satu bencana yang perlu dipahami siswa, termasuk dampaknya terhadap kehidupan masyarakat.
Penjelasan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun kesiapsiagaan. Namun bagi para siswa, memahami bencana kemudian berkembang menjadi pertanyaan yang lebih manusiawi: bagaimana nasib mereka yang menjadi korban?
Nasyitha Aqila Humaira, bendahara IPM KIDS, menyampaikan pemahamannya mengenai pergerakan lempeng bumi yang dapat berkaitan dengan terjadinya gempa.
“Pergerakan lempeng bumi harus kita pahami supaya kita tahu bagaimana menghadapi bencana,” katanya.
Sementara Faiz Aqila Adlar menyoroti dampak yang ditimbulkan oleh gunung meletus terhadap masyarakat dan lingkungan.
“Dampak akibat gunung meletus tidak hanya dirasakan saat kejadian, tetapi juga oleh masyarakat yang harus menjalani kehidupan setelah bencana,” ujarnya.
Perhatian siswa kemudian beralih pada lingkungan. Bariq Ibadillah Pranowo mengatakan kepedulian terhadap alam juga merupakan bentuk empati yang dapat dimulai dari diri sendiri.
“Kita harus menjaga kualitas udara dan tidak mencemari lingkungan. Sebagai pelajar kita juga harus ikut menjaga lingkungan,” katanya.
Menurut Bariq, manusia juga memiliki tanggung jawab terhadap kondisi lingkungan.
“Bencana ada yang terjadi karena alam, tetapi ada juga masalah yang disebabkan oleh ulah kita, seperti membuang sampah sembarangan,” ujarnya.
Alanna Dzakira Tiranda mengingatkan pentingnya kewaspadaan.
“Kita semua harus selalu waspada karena sewaktu-waktu bisa terjadi bencana alam,” katanya.
Sementara Sasya Namia Aleesya Oxavia menilai kepedulian terhadap korban juga harus diwujudkan dengan memahami kebutuhan mereka.
“Kita harus mengetahui kebutuhan prioritas yang dapat kita berikan kepada korban bencana. Kita juga harus selalu tenang apabila terjadi bencana agar tidak terjadi kekacauan,” ujarnya.
Bagi Aisyah Zakiyah, usia bukan penghalang untuk menunjukkan kepedulian.
“Kita memang masih anak-anak, tetapi kita juga bisa membantu korban bencana,” tegas Aisyah.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa empati tidak selalu harus diwujudkan dalam bentuk aksi besar. Siswa dapat membantu sesuai kemampuan dan perannya.
Alika Sabrina Adeleo menilai bantuan berupa kebutuhan barang dapat menjadi salah satu bentuk kepedulian.
“Bantuan berupa barang sangat dibutuhkan oleh mereka yang terdampak bencana,” katanya.
Sementara Sekretaris IPM KIDS Azka Alfarzan Arya Krisdianto melihat ada banyak cara bagi pelajar untuk menunjukkan kepedulian. Ia menyebut penggalangan dana dan edukasi sebagai dua bentuk aksi yang bisa dilakukan.
“Kita sebagai pelajar juga harus respek terhadap berbagai bencana. Selain menggalang dana untuk meringankan korban terdampak bencana, kita juga bisa memberikan edukasi tentang mitigasi bencana melalui poster,” jelas Azka.
Pembina IPM KIDS Nasyiatul Lailah, S.Pd., menilai empati menjadi nilai penting yang perlu terus dibangun melalui kegiatan tersebut.
“Empati terhadap saudara yang terkena musibah harus terus ditumbuhkan,” ujarnya.
Menurut Nasyiatul, pembelajaran kebencanaan akan lebih bermakna ketika siswa tidak hanya mengetahui penyebab dan dampak bencana, tetapi juga mampu merasakan kepedulian terhadap orang lain.
Pesan tersebut kemudian menjadi inti refleksi Noura Malia di akhir diskusi. Ia mengajak teman-temannya tidak berhenti melihat bencana sebagai sebuah peristiwa.
“Dari diskusi kita hari ini, kita belajar bahwa gunung api merupakan bagian dari alam Indonesia. Kita harus memahami gunung api, mengetahui informasi yang benar, dan belajar tentang kesiapsiagaan bencana,” ungkap Noura.
Namun, menurutnya, ada sesuatu yang jauh lebih penting daripada sekadar mengetahui bagaimana bencana terjadi.
“Ketika bencana terjadi, jangan hanya melihat peristiwanya. Lihatlah manusia yang ada di baliknya,” katanya.
Noura mengingatkan bahwa para korban memiliki kehidupan yang tidak jauh berbeda dengan siswa.
“Mereka memiliki keluarga, rumah, sekolah, pekerjaan, harapan, dan impian seperti kita,” lanjutnya.
Karena itu, ia mengajak seluruh anggota IPM KIDS menjadikan empati sebagai kebiasaan.
“Mari kita tumbuhkan rasa empati. Kepedulian tidak harus dimulai dari hal besar. Kita bisa memulainya dari diri sendiri,” ujarnya.
Noura kemudian merangkum pesan diskusi tersebut dalam tiga bentuk kepedulian.
“Peduli terhadap sesama, peduli terhadap lingkungan, dan peduli terhadap keselamatan bersama,” tegasnya.
Empati itu pun tidak berhenti dalam ruang diskusi. IPM KIDS merencanakan latihan mitigasi bencana pada pekan berikutnya yang akan melibatkan seluruh siswa.
“Kita agendakan minggu depan latihan mitigasi bencana yang melibatkan semua teman-teman kita,” pungkas Noura.
Bagi IPM KIDS, latihan tersebut bukan hanya tentang bagaimana menyelamatkan diri ketika bencana datang. Lebih dari itu, siswa ingin belajar menjadi pribadi yang siap membantu, peka terhadap penderitaan, dan tidak menutup mata terhadap sesama yang sedang tertimpa musibah.
(Ahmad Mahmudi)





