Menengok Dinamika Kampung Nelayan Sukolilo Kenjeran: Potret Realita, Perubahan Lingkungan, dan Harapan Perubahan

Must read

- Advertisement -

Surabaya, wartapoint – Kelurahan Sukolilo Baru di Kecamatan Bulak, pesisir utara Surabaya, menyimpan rekam jejak panjang kehidupan masyarakat nelayan. Meski Pemerintah Kota Surabaya terus memoles kawasan ini dengan berbagai destinasi wisata modern—seperti Jembatan Suroboyo, Air Mancur Menari, Taman Surabaya, hingga Sentra Ikan Bulak—kehidupan sosial dan ekonomi nelayan di baliknya masih menghadapi berbagai tantangan kompleks.

​Kondisi tersebut menjadi perhatian Ustadz Jatim, M.A., jajaran Lembaga Penelitian dan Pengembangan (Litbang) SD Muhammadiyah 29 Surabaya, yang juga merupakan putra daerah kelahiran Sukolilo Baru.

Perubahan Lingkungan dan Penurunan Hasil Laut

​Ustadz Jatim menyoroti perbedaan kontras antara kondisi Kampung Nelayan Sukolilo pada era 1980-an dengan realita saat ini. Dahulu, pesisir pantai dihiasi pasir lembut yang aman untuk arena bermain anak-anak serta memiliki sirkulasi air yang bersih. Kini, bibir pantai dipenuhi sampah berserakan dan endapan lumpur pekat setinggi lutut yang menyulitkan nelayan saat beraktivitas saat air surut.

​Penurunan kualitas lingkungan ini berbanding lurus dengan merosotnya hasil tangkapan laut.

  • Hasil Tangkapan Masa Lalu: Nelayan pernah menikmati masa kejayaan dengan hasil melimpah seperti udang, cumi-cumi, rajungan, hingga ikan kakap, dengan pendapatan harian mencapai nominal minimal Rp1.000.000,00.
  • Kondisi Saat Ini: Hasil tangkapan menurun drastis. Analisis warga setempat mengindikasikan bahwa penurunan ini dipengaruhi oleh pendangkalan laut, kerusakan terumbu karang, dan gangguan ekosistem akibat dampak pembuangan lumpur serta reklamasi di kawasan perairan.
  • Keterbatasan Sistem Tradisional: Nelayan masih bergantung pada jaring tradisional yang mengandalkan arus air. Akibatnya, mereka harus libur melaut (marit) pada tanggal tertentu setiap bulan kalender Jawa/Hijriyah (seperti tanggal 4–5 dan 19–20) saat arus laut melemah.

Dinamika Sosial dan Tantangan Edukasi

​Selain faktor ekosistem, Ustadz Jatim memaparkan beberapa pola perilaku dan gaya hidup masyarakat setempat yang dinilai memerlukan pembenahan:

  • Pola Konsumsi Fluktuatif: Tingkat belanja masyarakat sangat bergantung pada hasil laut. Saat panen, aktivitas ekonomi lokal melonjak, namun menjadi lesu saat hasil tangkapan sepi.
  • Pengelolaan Keuangan: Kebiasaan berbelanja barang sekunder saat panen sering kali berbalik menjadi beban finansial saat masa sepi, yang memicu ketergantungan pada pinjaman modal atau utang.
  • Prioritas Pendidikan: Kesadaran akan pentingnya pendampingan belajar di rumah dan pemenuhan biaya pendidikan formal masih perlu ditingkatkan agar anak-anak mendapatkan dukungan pendidikan yang optimal.

Dorongan Solusi Kebijakan dan Kemandirian Usaha

​Melihat kondisi Selat Madura yang berfungsi ganda sebagai jalur pelayaran, kawasan industri, dan area penangkapan ikan, Ustadz Jatim berharap Pemkot Surabaya dapat menghadirkan langkah konkrit dalam penataan kawasan pesisir serta perlindungan ekosistem laut.

​Di sisi lain, beliau menekankan pentingnya pembinaan dari dalam bagi warga Sukolilo Baru.

​Masyarakat nelayan diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah produk kelautan melalui pengolahan hasil tangkapan secara profesional dan pengemasan yang berdaya saing tinggi. Langkah tersebut, disertai dengan kesadaran menjaga kebersihan lingkungan pantai, diharapkan mampu membawa Kampung Nelayan Sukolilo menuju taraf hidup yang lebih sejahtera, bersih, dan asri. (yupan)

- Advertisement -spot_img

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Latest article