
Surabaya, wartapoint — “Bercanda boleh, tetapi menyakiti jangan!” Pesan tegas namun penuh makna tersebut menggema di halaman SD Muhammadiyah 10 Surabaya (Mumtas), Senin (12/10/2026).
Dalam apel pagi yang diikuti seluruh siswa kelas III hingga VI, Kepala SD Mumtas, M. Khoirul Anam, M.Pd.I., menyerukan gerakan anti-perundungan (bullying). Ia mengajak para siswa untuk membangun persahabatan yang sehat serta menjadikan lingkungan sekolah sebagai tempat yang aman, nyaman, dan ramah anak.
Refleksi Kasus Nyata: Bercanda yang Berujung Tragedi
Di hadapan para generasi Qur’ani SD Mumtas, Khoirul Anam menekankan bahwa perundungan bukanlah persoalan sepele. Alumnus Magister Pendidikan Universitas Muhammadiyah Surabaya ini membeberkan beberapa peristiwa tragis yang belakangan terjadi di daerah lain sebagai bahan pelajaran berharga.
Ia menyinggung kabar duka tentang seorang anak di Pemalang yang meninggal dunia akibat perundungan, serta insiden di Jawa Barat di mana seorang siswa mengalami cedera serius hanya karena kursinya ditarik saat hendak duduk.
“Peristiwa ini harus menjadi pelajaran bagi kita semua. Jangan sampai terjadi di sekolah mana pun, termasuk di SD Mumtas. Bercanda itu boleh, tetapi jangan sampai membuat teman terluka, ketakutan, atau menderita,” tegasnya di hadapan para siswa yang menyimak dengan khidmat.
Definisi Anak Hebat dan Bahaya Lelucon Sepihak
Anggota LDK PP Muhammadiyah tersebut mengingatkan bahwa tindakan yang kerap dianggap pelaku sebagai “sekadar lelucon” belum tentu menyenangkan bagi korbannya. Perilaku seperti mengejek, menghina fisik, memberikan julukan menyakitkan, memukul, hingga mengucilkan teman adalah bentuk perundungan yang harus dihentikan.
Dalam amanahnya, pria yang dikenal kalem ini menyampaikan pesan mendalam yang menyentuh hati para murid:
“Anak hebat bukanlah anak yang paling ditakuti teman-temannya, melainkan anak yang membuat teman-temannya merasa aman. Anak kuat bukan yang mampu membuat orang lain menangis, tetapi yang mampu menahan diri agar tidak menyakiti orang lain.”
Imbauan untuk Korban dan Saksi
Khoirul Anam juga memberikan panduan bersikap jika perundungan terjadi di sekitar sekolah:
- Bagi korban: Jangan takut atau ragu untuk melapor kepada kepala sekolah, guru, wali kelas, maupun orang tua.
- Bagi saksi: Jangan ikut menertawakan atau menyebarkan rekaman kejadian. Tindakan terbaik adalah membela korban dan segera mencari bantuan dari orang dewasa.
“Sekolah kita adalah sekolah ramah anak. Jangan sampai ada anak yang takut datang ke sekolah, sedih karena diejek, atau merasa sendirian karena dikucilkan. Semua anak berhak belajar dengan tenang dan bahagia,” tambahnya.
Membangun Karakter Generasi Qur’ani
Sebagai Sekolah Generasi Qur’ani, SD Mumtas berkomitmen menanamkan nilai bahwa kecerdasan intelektual dan prestasi akademik harus berjalan beriringan dengan akhlak mulia. Seluruh siswa diajak untuk saling menghargai perbedaan, menjaga lisan, berani meminta maaf saat melakukan kesalahan, serta berani membela kebenaran.
Melalui pesan dalam apel pagi ini, SD Mumtas menegaskan bahwa menciptakan lingkungan pendidikan yang aman adalah komitmen bersama. Sebab, sekolah yang hebat tidak hanya melahirkan anak-anak cerdas berprestasi, tetapi juga menjadi rumah yang hangat di mana setiap anak merasa diterima, dihargai, dan terlindungi. (yupan)





